Proyek Renovasi SMKN 3 Ternate Senilai Rp 4 Miliar Dinilai Asal-Asalan

HalmaheraNews – Harapan besar SMK Negeri 3 Ternate terhadap renovasi sekolah dengan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2024 sebesar Rp 4 miliar berujung kekecewaan. Pasalnya, hasil pengerjaan bangunan tidak sesuai ekspektasi, bahkan beberapa fasilitas mengalami kerusakan yang menghambat aktivitas belajar-mengajar.

Plh. Kepala Sekolah SMKN 3 Ternate, M. Djisman, mengungkapkan kekecewaannya terkait kualitas pengerjaan proyek tersebut.

“Hasil akhir renovasi ini sangat tidak memuaskan. Banyak fasilitas sekolah yang justru rusak, seperti kran air di kamar mandi yang tidak berfungsi, menyebabkan dinding menjadi lembab dan rusak. Ada juga beberapa bagian bangunan yang tampak rapuh,” ujar Djisman saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (27/02) siang.

Selain kualitas bangunan yang buruk, Djisman juga menyoroti kurangnya transparansi dalam proyek ini. “Kami tidak mengetahui secara pasti siapa kontraktor yang mengerjakan proyek ini. Sebelumnya, sekolah memiliki kewenangan untuk mengelola DAK karena kami lebih memahami kebutuhan sarana pendidikan. Namun, setelah pergantian pimpinan, kebijakan ini berubah tanpa koordinasi dengan pihak sekolah,” ungkapnya.

Lebih parahnya lagi, proyek yang dinyatakan selesai pada akhir Desember 2024 masih menyisakan berbagai permasalahan. Beberapa ruang kelas, seperti bengkel kecantikan dan tata boga, tidak dapat digunakan karena wastafel dan tempat cuci rambut tidak berfungsi. Atap masih mengalami kebocoran, dan kondisi dinding di beberapa ruangan mulai mengalami kerusakan.

Selain itu, sisa material bangunan dibiarkan menumpuk di sekitar sekolah tanpa diangkut oleh kontraktor, semakin menunjukkan lemahnya pengelolaan proyek ini.

Djisman berharap pihak kontraktor dapat segera menyelesaikan perbaikan fasilitas yang bermasalah. “Dalam tiga bulan ke depan, kami akan menghadapi ujian praktik. Jika fasilitas ini tidak segera diperbaiki, maka akan sangat berdampak pada proses pembelajaran siswa,” tutupnya.

Pihak sekolah berencana mengajukan komplain resmi kepada Dinas Pendidikan Provinsi agar masalah ini segera mendapat perhatian dan tidak terulang di sekolah lain. (yUn)

 

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *