Banjir Tahunan Kembali Rendam Weda, Warga Tagih Solusi Nyata Pemkab

HALTENG, HN – Hujan deras yang mengguyur Kota Weda dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir kembali menyebabkan banjir di sejumlah titik. Peristiwa yang hampir terjadi setiap tahun itu kembali memunculkan pertanyaan publik terkait efektivitas penanganan banjir oleh pemerintah daerah.

Salah satu titik terdampak berada di kawasan Kilometer Tiga, Desa Fidi Jaya. Luapan air dari saluran drainase di sekitar jembatan pintu masuk kawasan tersebut merendam badan jalan hingga setinggi pinggang orang dewasa.
Genangan kemudian meluas ke permukiman warga, rumah kos, pertokoan, hingga sejumlah fasilitas umum. Beberapa kantor pemerintahan dan instansi, termasuk kawasan sekitar Kodim Weda, ikut terdampak.

Banjir yang datang pada Senin malam (2/6) sekitar pukul 19.45 WIT membuat warga panik. Sebagian warga mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena debit air meningkat dalam waktu singkat.
“Saat hujan deras turun beberapa jam saja, kami sudah mulai khawatir. Air naik sangat cepat dan langsung masuk ke halaman bahkan rumah warga. Kondisi seperti ini hampir setiap tahun terjadi,” ujar Irmanto (39), warga Desa Fidi Jaya.

Menurut Irmanto, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya turun saat banjir terjadi, tetapi juga menghadirkan langkah nyata untuk mengatasi akar persoalan yang menyebabkan banjir terus berulang.

“Kami butuh solusi jangka panjang. Jangan sampai setiap musim hujan warga selalu dihantui banjir tanpa ada perubahan yang berarti,” katanya.

Banjir yang kembali melanda Kota Weda juga memunculkan sorotan terhadap upaya mitigasi yang selama ini dilakukan pemerintah daerah. Sejumlah warga menilai persoalan banjir belum mendapat perhatian serius dalam perencanaan pembangunan, meski dampaknya terus dirasakan masyarakat dari tahun ke tahun.

Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah yang dipimpin Bupati Ikram Malan Sangadji dan Wakil Bupati Ahlan Djumadil kini dihadapkan pada tantangan untuk menghadirkan solusi yang lebih konkret dan berkelanjutan.

Selain persoalan drainase, sejumlah pihak menilai penanganan banjir perlu dilakukan secara menyeluruh melalui evaluasi tata ruang, penguatan daerah resapan air, serta pengawasan terhadap aktivitas pembangunan yang berpotensi memengaruhi lingkungan.
Kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga dinilai menjadi faktor penting. Sampah yang menyumbat saluran air disebut turut memperparah genangan saat curah hujan tinggi.

Karena itu, publik berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga serius membenahi persoalan lingkungan yang menjadi penyebab utama banjir. Perbaikan sistem drainase, penataan kawasan rawan genangan, serta kebijakan pembangunan yang memperhatikan daya dukung lingkungan dinilai menjadi langkah yang perlu segera dilakukan.

Banjir yang kembali merendam Kota Weda menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah harus berjalan beriringan dengan upaya perlindungan lingkungan dan keselamatan masyarakat. Tanpa langkah strategis yang terukur, persoalan yang sama dikhawatirkan akan terus berulang pada musim hujan berikutnya. (Yun)

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *