Sosok itu akhirnya pulang.
Pulang untuk beristirahat di tanah yang dahulu ia abdikan hidupnya demi melayani rakyatnya. Sang wali kota penuh karya untuk rakyat, almarhum, akhirnya kembali ke kota yang pernah ia bangun dengan sepenuh hati.
Setelah kurang lebih lima tahun dimakamkan di tanah Daeng, Makassar, jasad beliau akhirnya dipulangkan dan dimakamkan di tanah yang pernah ia ukir dengan gagasan, pembangunan, dan pengabdian. Sebuah kota yang dahulu tumbuh perlahan, lalu berubah wajah di tangannya. Jalan-jalan dibenahi, ruang kota ditata, pelayanan publik diperkuat, dan wajah Ternate perlahan menemukan bentuk modernnya.
Karena itu, kepulangan beliau bukan sekadar perpindahan jasad dari satu kota ke kota lain. Ini seperti kepulangan seorang ayah kepada rumah yang pernah ia rawat dengan cinta dan tanggung jawab.
Di bawah langit Ternate yang pernah menjadi saksi kerja dan pengabdiannya, beliau akhirnya kembali.
Pemulangan almarhum ke Kota Ternate tak terlepas dari perhatian Pemerintah Kota Ternate di bawah kepemimpinan Walikota, Tauhid Soleman. Jasad beliau dijemput langsung oleh Sekretaris Kota Ternate, Rizal Marsaoly, — sosok yang dahulu dikenal dekat dan setia mendampingi beliau semasa memimpin pemerintahan.
Rizal datang langsung ke Makassar untuk menjemput sang mantan wali kota pulang ke rumahnya sendiri: Kota Ternate.
Kedatangan jasad almarhum disambut haru oleh masyarakat. Duka terasa begitu hidup di wajah-wajah para ASN Pemerintah Kota Ternate yang dahulu pernah bekerja bersamanya. Di halaman Kantor Wali Kota Ternate, suasana pelepasan berlangsung penuh keheningan dan penghormatan. Banyak mata tampak basah. Banyak kenangan mendadak kembali pulang bersama kedatangan beliau.
Sebab bagi banyak orang, Burhan Abdurahman bukan hanya seorang kepala daerah. Ia adalah pemimpin yang hadir sebagai manusia biasa: sederhana, hangat, mudah menyapa, dan tidak membangun jarak dengan rakyat maupun bawahannya.
Pemulangan beliau membuat banyak orang kembali membuka ingatan tentang masa-masa itu. Media sosial dipenuhi cerita, foto lama, dan kenangan bersama beliau. Dan saya pun ikut larut dalam arus kenangan itu.
Saya kembali teringat masa ketika masih menjadi wartawan Malut Post yang meliput Pemerintah Kota Ternate pada sekitar tahun 2011.
Dari sekian banyak peristiwa yang pernah saya liput, ada satu kenangan kecil yang hingga hari ini masih begitu membekas dalam ingatan saya. Kenangan sederhana, tetapi justru di situlah saya melihat sisi paling manusiawi dari seorang Burhan Abdurahman.
Saat itu saya ditugaskan Malut Post, atas permintaan Pemerintah Kota Ternate, untuk meliput langsung penyerahan Piala Adipura di Istana Negara. Kala itu saya menjadi satu-satunya wartawan dari Ternate yang ikut dalam rombongan peliputan penghargaan tersebut, yang diserahkan langsung oleh Presiden SBY.
Namun dari perjalanan itu, yang paling saya ingat bukan kemegahan Istana Negara atau seremoni penghargaan itu sendiri.
Yang paling membekas justru adalah kesederhanaan seorang wali kota.
Saya masih ingat ketika tiba di Jakarta menggunakan pesawat yang sama dari Ternate. Saya menginap di hotel berbeda karena bergabung dengan rombongan lain bersama Kepala BLH Kota Ternate saat itu, Marwan Do Hasyim.
Malam itu, telepon genggam saya tiba-tiba berdering. Di layar tertulis: “Pak Wali”.
Dengan sedikit gugup saya mengangkat telepon itu.
Dari seberang sana terdengar suara beliau dengan logat khas Ternate yang begitu akrab:
“Iwan, so makan?”
Saya menjawab singkat, “Iya Pak Wali.”
Beliau lalu berkata santai:
“Nanti besok baru baku dapa e.”
Percakapan itu sangat sederhana. Tidak penting-penting amat mungkin bagi orang lain. Tetapi bagi saya, itulah bentuk perhatian yang sulit dilupakan. Saya membayangkan, di tengah kesibukan seorang wali kota yang sedang berada di ibu kota negara menerima penghargaan nasional, beliau masih sempat memikirkan seorang wartawan muda dari daerah.
Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat beliau terasa dekat dengan banyak orang.
Keesokan harinya, saya bersama seorang teman — Isra Mukhsin, mantan wartawan Malut Post yang saat itu tengah menempuh studi S2 di Jakarta — sedang duduk santai di kawasan Monas.
Tiba-tiba telepon kembali berbunyi.
“Sadiki ka hotel, la torang pigi makan.”
Kami pun segera menuju hotel.
Dan lagi-lagi, tak ada jarak antara beliau sebagai wali kota dengan kami yang hanya wartawan muda. Beliau meminta kami ikut satu mobil bersamanya menuju sebuah rumah makan Padang.
Saya dan Isra duduk di kursi belakang. Di kursi tengah beliau duduk bersama seorang pengusaha asal Ternate. Di depan ada sopir dan ajudannya.
Sepanjang perjalanan, suasana begitu cair. Tidak ada ketegangan protokoler. Tidak ada kesan bahwa kami sedang bersama seorang kepala daerah.
Di tengah perjalanan, beliau melihat beberapa orang menjual koran di pinggir jalan. Dengan nada bercanda beliau berkata:
“Iwan, lia sana… dorang jual korang Malut Post itu.”
Seketika kami semua tertawa.
Momen itu mungkin kecil. Tetapi justru dari hal-hal kecil seperti itulah seseorang dikenang setelah tiada.
Dan saya yakin, saya bukan satu-satunya orang yang memiliki kenangan hangat tentang beliau. Sebab selama hidupnya, Burhan Abdurahman memang dikenal sebagai sosok yang tidak gemar membangun tembok antara jabatan dan manusia.
Ia memahami bahwa kekuasaan hanyalah amanah sementara. Karena itu, ia memilih dekat dengan rakyatnya, dekat dengan bawahannya, dan dekat dengan siapa saja yang menemuinya.
Kini beliau telah kembali ke tanah yang dahulu ia bangun dengan kerja dan cinta. Kota yang jalan-jalannya pernah ia tata. Kota yang denyut pembangunannya pernah ia jaga. Kota yang akan selalu menyimpan jejak pengabdiannya.
Mungkin waktu akan terus berjalan. Generasi akan berganti. Pemimpin akan datang dan pergi. Tetapi nama Burhan Abdurahman akan tetap tinggal dalam ingatan banyak orang sebagai salah satu sosok yang pernah memberi arti bagi Kota Ternate.
Selamat jalan, Pak Bur.
Terima kasih atas pengabdian, kesederhanaan, dan ketulusan yang pernah engkau tinggalkan di kota ini.
Semoga segala karya dan kebaikanmu menjadi amal jariyah yang terus mengalir di sisi-Nya.
(Irwan Marsaoly, Pegiat Media)






