KANALINFORMASI-JAKARTA (16 April 2011) | Sebagai perwira (lulus Akademi Militer/Akmil 1968) yang lama berdinas di bidang intelijen, Agum Gumelar jauh dari kesan tertutup atau dingin, mungkin karena itu Agum bisa merambah ke segala lini, mulai dari dunia olahraga sampai bidang kesenian.
Benar, hingga kini Agum lebih dikenal sebagai pembina sepakbola atau sebagai pelindung kelompok kesenian Srimulat. Namanya mulai disebut-sebut media nasional saat Agum menjabat Asisten Intelijen (Asintel) Kodam Jaya (1991-1992), ketika itu Agum turun menangani konflik pemilikan tanah antara warga dengan Pertamina, yang kemudian dikenal sebagai kasus Tanah Merah di Tanjung Priok, Jakarta Utara, 1991. Agum menangkap Muhidin, tokoh yang dianggap sebagai simbol perlawanan. Penampilan Muhidin yang khas dengan jenggot putihnya, tentu masih kita ingat. Karena kegigihannya memimpin perlawanan warga, Muhidin sempat dianugerahi Yap Thiam Hien Award.
Karier Agum sebagian besar memang di bidang intelijen, antara lain pernah bertugas sebagai Staf Kopkamtib dan Badan Koordinasi Intelijen Negara/Bakin (1973-1976), Wakil Asintel Kopassus (1987-1988), Asintel Kopassus (1988-1990), Asintel Kasdam Jaya (1991-1992), Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung (1992-1993), dan Direktur A (membidangi masalah dalam negeri) Badan dan Strategis (Bais) ABRI (1993-1994). Saat menjadi Direktur A Bais, Agum merangkap jabatan sebagai Komandan Kopassus ke-13 (1993-1994). Agum juga pernah bertugas di Taiwan, masih dalam rangka dinas intelijen, di akhir 1970-an, karenanya Agum fasih dalam bahasa Mandarin.
Pembawaannya pribadinya yang simpatik, menjadikan Agum bisa dekat dengan berbagai kalangan, salah satu yang perlu dicatat adalah kedekatannya dengan Megawati Soekarnoputri. Kedekatannya dengan Megawati, dimulai saat Agum (selaku Direktur A Bais), ikut menangani konflik internal Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Dalam Kongres Luar Biasa di Surabaya pada 1993, kemudian dilanjutkan Musyawarah Nasional di Jakarta, pada Desember 1993, Megawati secara de facto menyatakan dirinya sebagai Ketua Umum PDI. Di forum inilah Agum diangap turut berperan dalam memuluskan jalan Megawati menuju ke kursi Ketua Umum PDI.
Di sela penugasan di bidang intelijen, Agum sempat ditugaskan sebagai Danrem di Lampung (1992-1993), ketika Lampung masih dalam kondisi cooling down usai Peristiwa Talangsari (1989). Peristiwa Talangsari terjadi ketika Korem Lampung masih dipimpin oleh senior Agum di Akmil dan Kopassus, Kolonel Inf Hendro Priyono (Akmil 1967). Dalam perjalanan karir Agum dan Hendro, keduanya seolah beriringan, Agum selalu menggantikan posisi Hendro, sejak jabatan Asintel Kopassus hingga Danrem Lampung. Termasuk beriringan pula dalam kedekatan dengan figur Megawati Soekarnoputri.
|*|*| Berita ini boleh disadur dan dikutip dengan menyebut sumbernya. |*|*| Follow di Twitter: www.twitter.com/kanalinformasi Email: kanalinformasi@isai.or.id





Perjalanan hidup seorang Agum Gumelar, sampai saat ini memang mulus dan lancar. Trims informasinya yang bagus, salam kenal, selamat dan sukses selalu untuk Anda. Numpang lewat Gan, kalau sempat kunjungi balik ke website-ku juga ya? Trims.
Salam kompak:
Obyektif Cyber Magazine
(obyektif.com)