HALUT, HN — Desa Salube di pelosok Loloda Kepulauan kini bukan lagi desa yang terlupakan. Tragedi memilukan di awal Desember 2025, saat warga harus bertaruh nyawa mengarungi banjir demi sebuah pemakaman, telah memicu gelombang perubahan besar yang dipelopori oleh Satbrimob Polda Maluku Utara.
Sejak kehadiran 17 personel Brimob di bawah komando IPDA Ikram Kadir, suasana desa berubah menjadi zona pembangunan yang penuh energi. Targetnya jelas: membangun jembatan beton permanen yang tidak akan hancur meski dihantam banjir besar tahunan.
Tantangan terbesar dalam proyek ini bukanlah cuaca, melainkan distribusi material ke lokasi yang terisolasi. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah personel Brimob dan warga yang terus bekerja dari pagi hingga petang tanpa mengenal lelah.
Kepala Desa Salube, Sabri Duduaka, memuji ketangguhan para personel kepolisian yang tidak segan-segan melakukan pekerjaan kasar demi percepatan infrastruktur di wilayahnya. Kehadiran kapal pengangkut material menjadi kunci utama kelancaran proyek ini.
“Pembangunan difokuskan pada pembuatan kerangka cor tiang jembatan serta pengumpulan papan kayu sebagai material, pendukung pasir, krikil dan pemuatan bahan lainnya seperti semen maupun besi yang dimuat lewat kapal laut KM. Aksar 09 oleh bantuan anggota Brimob Polda malut,” ungkap Sabri Duduaka di tengah deru ombak.
Sinergi antara aparat dan rakyat terlihat saat mereka bersama-sama mengangkut material dari dermaga menuju titik pembangunan yang berjarak ratusan meter. Semangat gotong royong ini menjadi bukti nyata bahwa kemanunggalan Polri dan rakyat masih sangat kuat.
Jembatan beton sepanjang 12 meter ini dirancang untuk menjadi solusi jangka panjang bagi mobilitas warga. Tak ada lagi kekhawatiran saat hujan deras mengguyur, karena pondasi yang dibangun telah melalui perhitungan konstruksi yang matang.
Kehadiran jembatan ini juga disambut dengan penuh rasa haru oleh para pemuda desa yang selama ini merasa dianaktirikan oleh keadaan geografis. Bagi mereka, jembatan ini adalah simbol harga diri warga Salube.
Tokoh pemuda, Waldi Hi. Rauf mengenang kembali betapa hancurnya hati masyarakat saat melihat jenazah kerabat mereka basah kuyup karena harus menyeberangi sungai yang meluap. Ia menganggap jembatan ini sebagai obat atas luka lama tersebut.
“Kejadian jenazah yang harus menyeberangi banjir tempo hari adalah luka bagi kami. Tapi hari ini, kami melihat harapan baru. Kami para pemuda sangat mengapresiasi kehadiran Satbrimob Polda Malut. Jembatan Merah Putih Polri ini bukan sekadar beton, tapi urat nadi ekonomi dan akses keselamatan bagi warga Salube,” tegas Waldi. (tim)




