Industri Tumbuh 62 Persen, Harga Kebutuhan Pokok Tetap Tinggi, Halteng Dihantui Gejala Stagflasi

HALTENG, HN – Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) yang melesat hingga 62 persen belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kondisi ekonomi masyarakat. Di tengah ekspansi industri pertambangan dan smelter yang terus berkembang, harga sejumlah kebutuhan pokok masih relatif tinggi dan memicu kekhawatiran munculnya gejala stagflasi.

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Khairun Ternate, Kaisar Hamid, menilai pemerintah daerah perlu segera menyiapkan strategi pengendalian harga komoditas agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Menurut Kaisar, salah satu persoalan yang mulai terlihat adalah ketimpangan antara tingginya pertumbuhan ekonomi daerah dengan daya beli masyarakat yang masih tertekan akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu menjadi kabar baik. Namun, pemerintah juga perlu memastikan harga kebutuhan masyarakat tetap terkendali sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata,” ujarnya, Kamis (4/6).

Dia menjelaskan, secara teori stagflasi merupakan kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pengangguran. Meski Halteng saat ini masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, gejala tekanan terhadap daya beli masyarakat tetap perlu diwaspadai.

Kaisar menilai persoalan yang dihadapi Halteng bukan semata-mata soal distribusi barang. Sebab, wilayah tersebut memiliki akses distribusi laut maupun darat yang cukup memadai. Yang dibutuhkan saat ini, kata dia, adalah kebijakan ekonomi daerah yang mampu menjaga stabilitas harga komoditas.

“Pemerintah daerah perlu memiliki konsep yang jelas dalam mengendalikan harga dan menjaga keseimbangan pasar. Dengan begitu, pertumbuhan industri tidak hanya terlihat dalam angka statistik, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Halmahera Tengah menunjukkan perekonomian daerah tersebut tumbuh sekitar 62 persen secara tahunan berdasarkan perbandingan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2025 dan 2026. Sektor pertambangan dan industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi daerah.

Di sisi lain, angka kemiskinan juga terus menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2026, tingkat kemiskinan diperkirakan berada di kisaran satu digit atau sekitar 9 persen.

Meski demikian, harga sejumlah komoditas di Pasar Fidi Jaya masih menjadi perhatian. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga tomat berada pada kisaran Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram. Beras premium dijual sekitar Rp17 ribu per kilogram, beras medium Rp16 ribu per kilogram, Minyakita Rp25 ribu per liter, rica keriting Rp40 ribu per kilogram, dan rica nona mencapai Rp50 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah daerah melalui pengawasan pasar yang lebih intensif dan langkah-langkah pengendalian harga yang terukur.

Pengamat menilai, keberhasilan pembangunan di Halteng tidak hanya diukur dari tingginya investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga daya beli masyarakat serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan warga.
“Industri boleh tumbuh pesat, tetapi stabilitas harga dan kesejahteraan masyarakat tetap harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah,” tutup Kaisar. (yun)

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *