Sannipāta Waisak 2025 di Ternate: Ruang Spiritualitas yang Eratkan Tali Toleransi

TERNATE, HN — Suasana khidmat menyelimuti Ballroom Hotel Corner Istana, Ternate Tengah, pada Sabtu (14/6/2025) saat umat Buddha di Maluku Utara memperingati Sannipāta Waisak. Perayaan ini menjadi momen penting tak hanya bagi umat Buddha, tapi juga bagi masyarakat lintas agama yang hadir dan memberi dukungan.

Peringatan Waisak kali ini mengusung semangat kebersamaan dan nilai-nilai universal yang menjunjung tinggi kedamaian serta toleransi. Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, menegaskan pentingnya menjadikan ruang-ruang keagamaan sebagai medium untuk memperkuat harmoni sosial.

“Setiap perayaan keagamaan semestinya menjadi jembatan untuk mempererat relasi antarmanusia. Kita ingin Maluku Utara menjadi rumah besar yang nyaman bagi semua umat beragama,” ujar Sarbin di hadapan ratusan hadirin.

Sannipāta Waisak sendiri merupakan momen sakral yang memperingati tiga peristiwa agung dalam ajaran Buddha: kelahiran, pencerahan, dan parinibbāna Sang Buddha. Di Maluku Utara, perayaan ini mendapatkan dukungan penuh dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara dan komunitas Buddhis setempat.

Kepala Kanwil Kemenag Malut, H. Amar Manaf, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengendalian diri dan kebijaksanaan adalah nilai-nilai inti dalam ajaran Buddha yang juga relevan dalam kehidupan berbangsa saat ini.

“Ketika seseorang mampu mengendalikan diri dan bertindak dengan kebijaksanaan, maka ia telah memberi kontribusi nyata bagi perdamaian di sekitarnya,” jelas Amar.

Dalam kesempatan tersebut, Bimas Buddha Kanwil Kemenag Malut turut menyerahkan bantuan operasional kepada Sekolah Minggu Buddha Tunas Maitreya dan program Rumah Ibadah Sehat untuk Vihara Vajra Dharmaratna, sebagai bagian dari upaya pemerintah mendukung keberlangsungan pendidikan dan pelayanan keagamaan umat Buddha.

Pembimas Buddha, Marsam, menjelaskan bahwa perayaan ini juga dirangkaikan dengan kegiatan nasional bertajuk Vesakha Sananda Usai, berupa pembacaan kitab suci Dhamma sebanyak 423 ayat secara serentak selama 10 jam di berbagai daerah di Indonesia.

Perayaan ini menjadi bukti bahwa keberagaman yang hidup di Maluku Utara tidak sekadar slogan, melainkan nilai yang dijaga bersama oleh umat beragama dan pemerintah. (*)

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *