JAKARTA, HN — Pengunduran diri Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dari kursi DPR RI periode 2024–2029 menimbulkan pertanyaan besar: ke mana langkah politik keponakan Presiden Prabowo Subianto ini akan berlabuh selanjutnya?
Sara, sapaan akrabnya, selama ini dikenal sebagai figur muda Partai Gerindra yang menempati posisi strategis. Selain anggota DPR dari Dapil Jakarta III, ia juga menjabat Wakil Ketua Umum Gerindra sekaligus Ketua Umum Tunas Indonesia Raya (Tidar), organisasi sayap partai yang menjadi kawah candradimuka kader muda Gerindra.
Keputusannya mundur diumumkan melalui Instagram pada Rabu (10/9). Namun, ia tidak mengungkap alasan detail selain menyebut pernyataan kontroversialnya Februari lalu sebagai salah satu faktor.
Dinasti Politik Djojohadikusumo Berkurang
Langkah Sara otomatis memangkas representasi keluarga Djojohadikusumo di Senayan. Selama ini, dinasti politik Prabowo dikenal punya jaringan kuat, mulai dari Hashim Djojohadikusumo di sektor bisnis, Budisatrio Djiwandono sebagai Ketua Fraksi Gerindra, hingga Thomas Djiwandono di jajaran pemerintahan.
Dengan mundurnya Sara, Gerindra kehilangan salah satu simbol regenerasi politik keluarga. Padahal, keberadaan Sara sering dianggap penting untuk menjembatani Gerindra dengan pemilih muda, terutama di kota-kota besar.
Dari Aktivisme ke Politik, dan Kembali?
Di luar panggung politik, Sara sudah lama dikenal sebagai aktivis. Ia mendirikan jaringan nasional Anti TPPO (perdagangan orang) dan pernah membela Ipda Rudy Soik, polisi yang dipecat setelah membongkar mafia BBM di NTT.
Banyak pihak menilai pengunduran diri ini bisa membuka jalan bagi Sara untuk kembali fokus ke dunia aktivisme. Namun, tak sedikit pula yang berspekulasi, Sara justru tengah menyiapkan manuver politik lain di luar DPR.
Ujian Regenerasi Gerindra
Mundur-nya Sara juga menjadi ujian regenerasi bagi Gerindra. Selama ini, ia kerap dijadikan contoh kader perempuan muda yang naik ke panggung politik nasional. Tanpa kehadirannya di Senayan, Gerindra dituntut menyiapkan tokoh lain agar tidak kehilangan daya tarik di segmen pemilih muda.
Kini, publik menunggu apakah Sara benar-benar akan meninggalkan dunia politik, atau justru kembali dengan peran berbeda. Yang jelas, pengunduran diri ini menandai babak baru dalam perjalanan politik keluarga besar Djojohadikusumo. (*)





