[halmaheranews-MAKASSAR- 2/04/11]. Dua kelompok mahasiswa asal Maluku Utara, terlibat perkelahian di Makassar Sulawesi Selatan. Dalam peristiwa tersebut, satu mahasiswa meninggal dunia akibat dikeroyok oleh kelompok mahasiswa lainnya, sementara sejumlah mahasiswa lainnya mengalami luka-luka.
Korban tewas diketahui bernama Sofyan, mahasiswa asal Sanana Maluku Utara yang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia Makassar. Sofyan meninggal dunia setelah sebelumnya dikeroyok oleh kelompok mahasiswa lainnya pada jumat dini hari, disekitar kompleks BTN. Hamzi Makassar. Sebelumnya ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit umum Dokter Wahidin Sudirohusodo Makassar, namun akhirnya tak tertolong dan meninggal pada jumat sore. Korban menderita luka parah akibat pukulan dan tikaman senjata tajam.
Dari informasi yang dikumpulkan halmaheranews, menyebutkan perkelahian antar kelompok mahasiswa asal Maluku Utara ini bermula dari keributan antar kelompok mahasiswa dalam sebuah acara mahasiswa yang digelar di APTISI Makassar, jl. Perintis Kemerdekaan. Keributan tersebut kemudian memicu terjadinya aksi saling balas oleh kedua kelompok mahasiswa.
Asrama Mahasiswa Tegang
Kasus perkelahian antara kelompok mahasiswa asal Maluku Utara yang menimbulkan korban jiwa tersebut sempat membuat suasana tegang terjadi di sejumlah asrama mahasiswa asal Maluku Utara. Seperti yang terlihat di Asrama putra Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Nuku (HIPMIN) Makassar, di jalan Talasalapang II No. 1, Gunungsari Makassar. Malam tadi sedikitnya seratus mahasiswa asal kota Tidore Kepulauan terlihat bersiaga di asrama tersebut, menyusul adanya informasi penyisiran dan kelompok mahasiswa lainnya untuk mencari pelaku penyerangan.
“Kami hanya berjaga-jaga, sebetulnya kami tidak terlibat dalam masalah ini, ini antara mahasiswa asal Bacan dan Sanana. Tapi tak ada salahnya kami waspada, karena ada pihak-pihak tertentu yang menyebut kami terlibat dalam keributan ini.” Ungkap salah seorang mahasiswa yang tak ingin disebut namanya.
Sementara itu sejumlah personil kepolisian dari polsekta Tamalate Makassar sempat mendatangi asrama putra Nuku dan menenangkan para mahasiswa agar tidak terpancing dengan provokasi ataupun informasi yang belum jelas kebenarannya (end).





Kronologis sebenarx apa..?
kok smpe bisa terjadi seperti itu…….
bener2 sangat d sayangkan…..Hidup merantau dgn tujuan sekolah, bknx melakukan tujuan yg wajib harus d lakukan malah melakukan hal0hal yg bener2 merugikan…….
perlu adanya bnyk sosialisasi antar mahasiswa dr MALUT agar tidak terjadi lagi seperti itu….
Ada kelompok mahasiswa sering ketemu SBY? Itu mahasiswa tidak punya harga diri, kawan. Tapi kita memang banyak pekerjaan rumah. Kita harus kritisi dan kritis pula mengenai hal berikut ini. Susno Duadji, peniup peluit itu, tidak pernah mendapat penghargaan, malah diganjar hukuman penjara. Tapi Kakak Najwa, bukan peniup peluit tapi hanya mengaduk-ngaduk perasaan masyarakat dan mengompor ulung, justru diberi penghargaan. Enggak habis pikir gimana kakak wartawati ini, Najwa Shihab, yang enggak ada nyali sedikitpun, dan beraninya hanya membuat acara dari sudut sejarah saja, seperti dalam acara Mata Najwa, bukan segi-segi aktual dan signifikan untuk kepentingan rakyat Indonesia masa kini, bisa mendapat award. Tapi wajar, semua lulusan Barat enggak akan terlalu sulit memperoleh penghargaan seperti itu, sebab ikut mempromosikan kepentingan Barat, atau setidaknya diam terhadap kebergsekan, kemunafikan dan standar ganda Barat. Padahal orang-orang seperti Kakak Najwa enggak mungkin punya mata dan hati serta mengkritisi Barat, sebab dia bekerja di media pengeruk keuntungan juga, bukan media total independen atau dibiayai sebuah yayasan norlaba. Kakak Najwa juga disekolahkan gratisan tepatnya melalui beasiswa dari pemerintah pro barat, dalam hal ini pemerintah Australia. Kalau ada wartawati/wan Indonesia lulusan non-Barat, misalkan lulusan Rusia atau bahkan Korea Utara, lalu mampu mendapat penghargaan itu, baru kita akan salut. Itulah jurnalisme sejati, jurnalisme tanpa berpihak. jadi kita harus sadar hal itu, ini bukan berarti saya kekiri-kirian. Ini bukan soal kiri dan kanan, tapi soal jelas dan nyata adanya kepentingan Barat, yang menyelinap halus di bangsa ini melalui rezim-rezim sejak masa Soeharto, dan diteruskan rapi oleh SBY. Media tempat Kakak Najwa bekerja pun sangat bangga dan sangat ambil manfaat ini, untuk maksud-maksud ekspose, seperti saat membanggakan semu pada wartawati Andini Effendi yang dikirim ke Libia dan negara tetangganya, tanpa menghasilkan liputan-liputan besar, tapi hanya seolah dekat dengan mara bahaya, bom-bom berjatuhan, dan tersirat seakan dia “dekat nyaris kena bom”. Itu bukan berita. Lebih baik ambil dari kantor berita Tv-Tv Barat yang sangat rinci dan canggih dalam melihat kebenaran, dalam melihat siapa yang benar dan siapa yang jelas. Penguasa macam Khadafi justru diam-diam dibela oleh MetroTV, terlihat dari uraian-uraian MetroTV, hanya karena mungkin takut kurang membela umat Islam, itu sebuah blunder Metro TV. Itu semua hanya untuk gengsi-gengsian saja. Tidak ada yang bermakna, melihat kebenaran pun tidak mampu, samasekali.