Perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar Menurut Ustadz Abdul Somad

UAS saat menyampaikan Tausyiah di Masjid Almunawwar Kota Ternate

HALMAHERAnews – Peristiwa penting yang ada pada bulan Ramadhan yakni Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar. Kadang bingung membedakan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar, karena, Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar kerap diperingati secara beriringan di bulan Ramadhan.

Namun bagi Ustadz Abdul Somad (UAS), Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar memiliki perbedaan makna. Lalu, apa perbedaan  Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar ? Berikut penjelasan Ustadz Abdul Somad.

Ulama yang akrab disapa UAS itu mengemukakan bahwasanya Nuzulul Quran merupakan proses turunnya Alqur’an ke muka bumi, peristiwa tersebut, terjadi pada bulan Ramadhan, tepatnya pada malam Lailatul Qadar.

“Kami turunkan Alqur’an pada malam yang penuh berkah,” ucap UAS sambil membaca ayat Alqur’an, dilansir  dari kanal YouTube semuthitamTV, Kamis (14/4).

Peristiwa tersebut diabadikan dalam Q.S Al-Qadar ayat ke-1.

“Kami turunkan Alqur’an pada malam Lailatul Qadar,” jelasnya.

Nuzulul Qur’an

Penjelasan itu cukup menjawab pertanyaan mengenai perbedaan antara Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar. Lailatul Qadar sendiri merupakan satu malam di bulan Ramadhan, yang teramat mulia.

“Malam Lailatul Qadar artinya malam yang memiliki kemuliaan,” terangnya.

Kemuliaan malam Lailatul Qadar tiada banding dengan malam-malam lainnya. Saking mulianya menurut UAS, malam Lailatul Qadar sering disebut sebagai malam 1000 bulan.

UAS menjelaskan, takdir manusia telah Allah tulis di Lauhulmahfuz. Tetapi, takdir yang tertulis di Lauhulmahfudz adalah takdir umum ungkap pria kelahiran Asahan, Sumatera Utara, 18 Mei 1977 ini.

“Takdir secara umum tertulis di Lauhulmahfudz,” imbuhnya.

Sedangkan takdir secara khusus, Allah tuliskan pada tiap malam Lailatul Qadar.

“Tetapi takdir secara detail pertahun, ditulis pada malamLailatul Qadar,” beber UAS.

Malam Lailatul Qadar juga disebut sebagai malam yang sempit, alasannya, karena pada malam itu seluruh Malaikat turun ke muka bumi.  Bila Malaikat berwujud fisik, maka sesak dunia ini karena kehadiran mereka semua kata UAS.

“Kalaulah Malaikat itu berbentuk fisik dan turun semua ke bumi, sempitlah,” singkanya. (*)

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *