Citizen reporter : Delfi Merdeka melaporkan dari Ternate
[halmaheranews-TERNATE-21/8/2011] Mesjid raya Al-Munawar adalah masjid terbesar di Kota Ternate. Mesjid yang diresmikan pada tangal 5 Agustus 2010 lalu berada pada kawasan Reklamasi Tapak II. Letak mesjid yang berada di tepi pantai ini membuat kawasan tersebut menjadi tempat favorite untuk ngabuburit. Warga yang berkunjung disini bisa menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa dengan melihat pemandangan pantai.
Kawasan mesjid Al-Munawar sendiri tidak pernah sepi dari pengunjung, apalagi dibulan puasa ini banyak muda-mudi hingga orang tua yang menikmati tempat ini sambil menunggu waktu berbuka puasa. Biasanya keramaian terdapat pada kawasan taman kota sebelah utara mesjid, kawasan ini banyak terdapat orang-orang yang sekedar duduk sambil memandang lautan, atauĀ sambil memacing ikan.
Dari kawasan tersebut dapat dilihat pemandangan pulau Tidore dan pesisir Halmahera serta disebelah utara nampak pemandangan aktifitas di pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Pemandangan yang menarik ini juga membuat kawasan tersebut menjadi salah satu spot untuk foto-foto yang sangat menarik.
Berkah ramadhan bagi penjual musiman
Nah hal lain yang bisa dilakukan saat menghabiskan waktu menunggu waktu berbuka adalah dengan mencari penganan khas berbuka puasa yang banyak dijual disekitar kawasan masjid Al Munawwar. Para pedagang kue biasanya sudah mulai ramai memadati kawasan ini dengan beraneka jajajan khas berbuka puasa ala masyarakat Maluku Utara, seperti kue pelita, panakuk,dalampa,bobengka hingga menu gohu dengan ubi rebus.

Selain kue tradisional, pedagang musiman lain yang ramai dijumpai saat puasa dalah penjual buah kelapa muda Menikmati suguhan buah kelapa saat berbuka menjadi salah satu menu favorit warga kota Ternate. Biasanya para penjual kelapa muda ini bisa dijumpai di sepanjang jalan Merdeka atau area samping kiri Mall Ternate. Pedagang yang berjejeran disepanjang torotoar tersebut mulai berjualan pada pukul 14.00 hingga menjelang magrib. Para pedagang menawarkan buah kelapa segar yang baru dipetik dari pohon tersebutĀ dengan kisaran harga Rp.5000 hingga Rp 10.000.
Para pedagang kelapa muda tersebut menawarkan dagangannya dengan dua cara, ada yang hanya dikupas kulit kelapanya atau ada yang langsung dibelah diambil airnya serta diparut isi kelapanya tergantung mana yang paling disukai oleh para konsumen. Bulan Ramadhan memang mendatangkan berkah bagi para pedagang musimanini, sayangnya masalah lain yang timbul akibat keberadaan pedagang tersebut adalah menumpuknya sampah. Para pedagang kelapa muda tersebut sering meninggalkan sampah berupa kulit kelapa yang tertumpuk di pinggir jalan. Hingga pagi hari kulit kelapa tersebut menumpuk di sepanjang jalan dan membuat pemandangan kota menjadi sedikit kurang sedap dipandang.(end)




