Citizen reporter : Delfi Merdeka melaporkan dari Tidore

[halmaheranews-TIDORE-27/4/11] Denyut nadi mobilisasi masyarakat Maluku Utara banyak ditentukan oleh moda transportasi laut, provinsi dengan luas wilayah mencapai 140.255,32 km² ini, 76,27 persen wilayahnya adalah lautan, atau sekitar 106.977,32 km², sementara sisanya 33.278 km² atau 23,73% adalah daratan. Karena itu pula, jalur distribusi barang dan jasa ataupun mobilisasi manusia sangat ditentukan oleh moda transportasi laut, seperti perahu motor, speedboat, kapal feri hingga berbagai jenis perahu-perahu kecil yang biasa digunakan masyarakat untuk melakukan perjalanan antara pulau.
Pagi itu, sekitar pukul delapan pagi, sejumlah sepeda motor terparkir di dermaga kecil penyeberangan Rum Tidore. Para pemilik kendaraan sabar menunggu, hingga jumlah kendaraan telah cukup untuk dibawa menyeberang ke pelabuhan Bastiong Ternate dengan menggunakan perahu motor kayu kapasitas 25 penumpang, atau yang biasa disebut dengan nama motor kayu.
Meski harus menunggu antara tiga puluh menit hingga dua jam, para pemilik kendaraan ini harus tetap bersabar, hingga juragan motor kayu memutuskan untuk segera menarik jangkar dan berangkat menuju ke Bastiong. Tidore dan Ternate, dua pulau kembar ini bias ditempuh melalui perjalanan laut sekitar tiga kilometer, dengan wkatu 10 menit bila menggunakan speedboat, dan 20 menit bila menumpang motor kayu.
“ belum bisa, tunggu 3 motor lagi baru berangkat ” begitu kata juragan motor kayu menepis rasa gelisah para pemilik kendaraan yang kebanyakan adalah warga Tidore yang bekerja di Ternate.
Motor kayu, atau perahu penyeberangan ukuran sedang ini hingga tahun 80-an masih menjadi alat transportasi utama masyarakat di pelabuhan penyeberangan Tidore-Ternate. Seiring waktu, perlahan peran utama motor kayu mulai tergantikan setelah speedboat-speedboat ukuran kecil yang lebih cepat mulai ramai bermunculan di pelabuhan Rum dan Bastiong. Apalagi setelah penataan system transportasi laut semakin baik dengan hadirnya kapal feri untuk penyeberangan Tidore – Ternate.
Saat ini keberadaan motor kayu dipelabuhan Rum Tidore dan Bastiong Ternate hanya tersisa dalam jumlah belasan. Fungsi utama dari angkutan untuk manusia, kini beralih menjadi angkutan khusus para pemilik sepeda motor yang terlambat sampai di pelabuhan setelah kapal feri berangkat. Motor kayu akan menjadi pilihan terakhir, meski dengan waktu tempuh yang lebih lama serta tariff yang sedikit lebih mahal.
”Kalau motor kayu, sekali jalan kendaraan dan 20 ribu rupiah, dengan 30 menit perjalanan, itupun harus tunggu lama antara 30 menit hingga 2 jam.. Kalau feri hanya 15 ribu, sudah termasuk orang dan kendaraan, dan lebih cepat sampai” ujar seorang pemilik kendaraan yang akan menyeberang.
Peran motor kayu memang tak berakhir sebagai alat transportasi penyeberangan laut, namun kini makin terpinggirkan, digeser oleh model tranpostasi moderen yang jauh lebih efektif dan efisien dari segi waktu dan biaya. Sejak pelabuhan penyeberangan Rum Tidore dan Bastiong Ternate semakin ramai oleh lalulintas speedboat dan kapal feri.
Para pemilik motor kayu kini hanya bias mentaktisi keadaan dengan menjaring penumpang yang terlambat naik ke kapal feri. Itupun dalam sehari mereka hanya bias beroperasi dua kali, sekali menuju ke Ternate pada pagi hari, dan sekali kembali ke Tidore pada sore hari, dengan jumlah angkutan kendaraan maskimal 12 motor untuks eklai jalan. Kondisi ini jelas membuat keuntungan yang didapat jauh lebih sedikit.
Jaman bergerak semakin cepat, tapi motor-motor kayu di pelabuhan Rum dan Bastiong tetap bertahan, meski harus bergerak pelan menantang ombak di selat Tidore dan Ternate.(end)




