Ragam  

Kesaktian Ki Hujan

Pohon ki Hujan yang ditanam di lingkungan kampus Universitas Hasanuddin Makassar (foto: syamsul)

Citizen reporter : Fadillah Nurselina Sandiah

Pohon ki Hujan yang ditanam di lingkungan kampus Universitas Hasanuddin Makassar (foto: syamsul)

[halmaheranews-6/6/2011] Iklim perkotaan yang sangat rentan dengan bahaya polusi membutuhkan banyak zona hijau untuk memberikan kesegaran dan keteduhan. Populasi kendaraan bermotor di perkotaan yang terus meningkat kerap membuat kondisi udara menjadi semakin buruk akibat polusi. Apalagi jika konsep pembangunan kota dibuat tanpa memberikan ruang bagi pepohonan untuk tumbuh atau memberikan space bagi ruang terbuka hijau di tengah kota.

Dari sekian banyak pohon yang bermanfaan untuk menyerap sebaran karbondiaksida di udara, jenis pohon trembesi atau ki hujan adalah salah satu pohon yang baik untuk ditanam di perkotaan, karena memiliki kemampuan menyerap CO2 hingga 28 ton.

Pohon trembesi atau dalam bahasa latinnya samane saman atau yang juga dikenal dengan sebutan ki hujan, diperkirakan berasal dari Meksiko, Peru dan Brazil. Namun sekarang telah banyak tersebar di seluruh daerah beriklim tropis seperti Indonesia

Ciri umum dari Ki Hujan ini batangnya memiliki ketinggian rata-rata 30 – 40 meter,lingkar pohon sekitar 4,5 m dan mahkota pohon mencapai 40 – 60 m. Bentuk batangnya tidak beraturan kadang bengkok, menggelembung besar. Daunnya majemuk mempunyai panjang tangkai sekitar 7-15 cm. Sedangkan pada pohon yang sudah tua berwarna kecekelatan dan permukaan kulit sangat kasar dan terkelupas.

Sementara itu daunnya melipat pada cuaca hujan dan di malam hari. Kulit pohon berwarna abu-abu kecokelatan pada pohon muda yang masih halus. Sedangkan lebar daunnya sekitar 4-5 cm berwarna hijau tua, pada permukaan daun bagian bawah memiliki beludru, kalau di pegang terasa lembut.

Meningkatnya penggunaan bahan bakar minyak di perkotaan menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi CO2 di udara. Apabila akumulasi CO2 berada diambang batas, atau melebihi 290 ppm, maka CO2 dapat menyebabkan naiknya suhu udara. Makanya jangan heran jika di sebuah kawasan kota yang jarang ditumbuhi pepohonan akan membuat suhu di kota tersebut terasa samakin panas.

Saat ini berbagai kawasan di propinsi Maluku Utara tengah menggiatkan pembangunan, terutama peningkatan sarana infrastruktur untuk menopang lajunya perekonomian. Termasuk pembukaan berbagai lokasi baru untuk perluasan daerah perkotaan. Pembangunan tanpa memperhatikan aspek lingkungan, terutama menyediakan daerah terbuka hijau bagi warga kelak akan menimbulkan ketidak seimbangan lingkungan perkotaan, dan bisa membawa akibat buruk bagi lingkungan maupun kondisi psikologis masyarakat.(end)

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *