Bentrok Pilkada Morotai 5 Warga Tertembak

[halmaheranews-MOROTAI-22/5/2011]. Bentrokan terjadi antara massa pendukung calon bupati Morotai Rusli Zebuah-Wenni Paraisu, dengan aparat kepolisian di Morotai Maluku Utara sabtu (21/50 kemarin. Bentrokan dipicu setelah massa pendukung calon bupati Morotai Rusli Zebuah-Wenni Paraisu memprotes sidang pleno KPUD Morotai yang menetapkan pasangan nomor satu Arsyad Sardan-Demianus Ice sebagai pemenang pemilukada.

Dalam bentrokan tersebut lima orang pengunjuk rasa mengalami luka tembak dan terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Tobelo Halmahera Utara untuk menjalani perawatan. Para korban tersebut menderita luka tembak dibagian kaki dan perut. Sedikitnya 200 personil keamanan dari Brimob Polda Maluku Utara dan Dalmas Polres Halmahera Selatan berupaya menghalau massa dengan menyemprotkan senjata water canon serta melepaskan sejumlah tembakan peluru karet.

Bentrokan yang melukai lima orang warga tersebut sempat membuat situasi semakin memanas,massa sempat melampiaskan kemarahan mereka dengan membakar sebuah café dan warnet yang berada didekat lokasi bentrokan.

Pleno rekapitulasi suara pemilukada Morotai yang sedianya dilakukan di gedung DPRD Morotai, terpaksa dipindahkan pelaksanaannya ke Pangkalan TNI-AU Daruba Morotai karena alasan keamanan.  Dalam peleno tersebut KPUD Morotai menetapkan pasangan Arsyad Sardan-Demianus Ice sebagai pemenang dengan perolehan suara sebanyak 11.455 atau 33,72 persen, unggul dari pasangan Rusli-Wenni dengan perorelah suara sebesar 10.469 suara atau sebesar 31,33 persen.Kemudian disusul pasangan Anghany -Arsyad dengan 6.453 suara atau 18,98 persen, Umar-Sepnath dengan 4.268 suara atau 12,55 persen, Faisal – Lukman dengan 927 suara atau 2,72 persen dan yang terakhir pasangan Decky – Maat Pono dengan 229 suara atau 0,67 persen.

Massa pendukung Rusli zebuah – Wenni Paraisu memprotes keputusan tersebut karena mengklaim dalam rekapitulasi di tingkat kecamatan, dari lima kecamatan yang ada. Tiga kecamatan diantaranya dimenangkan oleh pasangan Rusli-Wenni.

Hingga hari minggu ini, situasi di Morotai telah berangsur-angsur kondusif. Meski demikian aksi unjuk rasa masih terus berlangsung. Massa mendesak aparat kepolsian bertanggung jawab atas insiden bentrokan yang melukai lima orang warga tersebut. Sementara itu kapolda Maluku Utara juga telah tiba di Morotai untuk memantau langsung upaya pengamanan di wilayah tersebut pasca bentrokan(end)

">

Respon (3)

  1. yaaaaa pilkada maluku utara selalu di warnai dengan konflik lagu wajip dan mungkin sudah jadi kewajiban bagi masyarakat maluku utara mungkin atau tidak faktanya selalu seperti itu.

  2. Itulah salah satu peninggalan bangsa penjajah terhadap rakyat Moloku Kie Raha sehingga setiap ada hajatan apapun harus diakhiri dengan saling bentrok

  3. Ya itulah kondisi pilkada saat ini di maluku utara. yang dikedepankan adalah kekerasaannya, bukan dialog yang dilakukan. apa kata dunia…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *