Air Mata di Ujung Doa: Nenek Penyapu Jalan Menuju Baitullah

Nenek Nursadek Musa

“Perjalanan 29 Tahun Mewujudkan Cita-Cita Suci”

TERNATE, HN – Di tengah riuh rendah keberangkatan jemaah haji asal Maluku Utara tahun ini, ada satu kisah yang menggugah hati dan menginspirasi siapa pun yang mendengarnya. Kisah itu datang dari seorang perempuan lanjut usia, sederhana, bersahaja, namun memiliki semangat dan keteguhan hati yang luar biasa. Dia adalah Nenek Nursadek Musa, seorang calon jemaah haji berusia 75 tahun asal Kota Ternate.

Nenek Nursadek bukanlah pejabat, bukan pula orang terpandang dengan kekayaan berlimpah. Sehari-harinya, ia bekerja sebagai penyapu jalan di Kota Ternate sejak tahun 1996. Dengan penghasilan sekitar Rp300.000 per bulan, ia menghidupi dirinya sembari diam-diam menyisihkan sedikit demi sedikit uang untuk satu tujuan mulia yang telah lama ia impikan—menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.

Impian itu bukanlah muncul sekejap, melainkan tumbuh perlahan dari tekad yang kuat, disiram oleh doa, dan dipupuk oleh kesabaran selama puluhan tahun. Meski hidup dalam keterbatasan, Nenek Nursadek tidak pernah menyerah. Uang receh pun dianggapnya sebagai titipan rezeki yang harus ia amankan untuk kelak digunakan berhaji. “Kadang hanya dapat dua puluh ribu, tetap saya simpan. Sedikit-sedikit saya tabung. Saya yakin Allah tahu niat saya,” tuturnya dengan suara lirih, matanya berkaca-kaca menahan haru.

Tahun 2014, setelah 17 tahun menabung, ia akhirnya berhasil mendaftarkan diri untuk naik haji. Namun, perjuangannya tidak berhenti di sana. Karena panjangnya antrean, ia masih harus menanti 11 tahun lagi hingga akhirnya pada tahun 2025, namanya keluar sebagai salah satu jemaah yang berangkat ke Tanah Suci.

Dalam masa penantian itu, ia tetap bekerja dan terus menabung, tanpa pamrih dan tanpa pernah sekalipun mengeluh. Bahkan, pendaftaran hajinya ia lakukan secara diam-diam. “Saya takut orang bilang, ‘Ko orang miskin ko mimpi mau pigi haji.’ Tapi saya yakin, selama Allah izinkan, tidak ada yang tidak mungkin,” ucapnya dengan suara penuh keyakinan.

Saat waktu keberangkatan tiba, Nenek Nursadek hanya membawa uang saku sebesar Rp2.500.000, hasil patungan dari anak-anaknya. Namun, Allah tidak membiarkannya berangkat sendiri. Jalan kebaikan terus terbuka. Dalam sebuah acara tausiyah hikmah haji walimatussafar, Ustadz Zulkiram, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Ternate, mengisahkan perjuangan Nenek Nursadek di hadapan para hadirin. Kisah itu menyentuh banyak orang. Usai acara, telepon masuk ke ponsel sang ustadz—ada yang ingin menyumbang untuk menambah uang saku nenek.

Tak hanya masyarakat, Pemerintah Provinsi Maluku Utara juga turut memberi perhatian dengan kebijakan pemberian uang saku tambahan kepada jemaah haji. Bahkan Wakil Wali Kota Ternate yang berkunjung ke Embarkasi Makassar secara langsung memberikan bantuan untuk kebutuhan kursi roda dan biaya pelaksanaan dam tamattu’ selama di Tanah Suci. Bantuan itu sangat berarti, karena dengan keterbatasan fisik dan usia, Nenek Nursadek memerlukan kursi roda untuk menjalani thawaf umrah, thawaf ifadah, dan thawaf wada’.

Akhirnya, pada Selasa, 13 Mei 2025, Nenek Nursadek resmi tergabung dalam kloter 17 UPG Makassar dan berangkat menuju Arab Saudi. Tangis haru dan syukur mengiringi kepergiannya. Setelah hampir 29 tahun perjuangan, mimpi yang dirintis dari lorong-lorong jalanan Kota Ternate kini telah sampai pada kenyataannya.

Kisah Nenek Nursadek adalah pengingat kuat bagi kita semua bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh status sosial atau materi, melainkan oleh ketulusan niat, ketekunan, dan kesabaran dalam berjuang. Bahwa tak ada impian yang terlalu tinggi, selama hati tetap tawadhu, niat tetap suci, dan doa tak henti dipanjatkan.

Dalam dunia yang sering menilai seseorang dari apa yang ia miliki, Nenek Nursadek menunjukkan bahwa yang terpenting adalah apa yang kita perjuangkan dan untuk siapa kita melangkah. (*)

 

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *