Seri Tokoh Intelijen : Chairawan dan Krisis Kader TNI

KANALINFORMASI-JAKARTA (11 April 2011) | Karir seorang perwira seolah sebuah misteri, terlebih bila perwira itu berdinas di bidang intelijen, begitulah yang terjadi pada Brigjen TNI Chairawan (Akmil 1980). Pada 9 Maret 2011, Chairawan dan beberapa perwira tinggi Aangkatan Darat, melapor kenaikan pangkat kepada KSAD, Jendral George Toisuta. Chairawan naik jadi mayor jendral. Kabarnya Chairawan segera mendapat promosi pada jabatan bintang dua (mayor jendral) di Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Nama Chairawan tentu tidak asing lagi, saat diangkat sebagai Komandan Grup 4/Sandi Yuda (kini Grup 3/Sandi Yuda) Kopassus, pada 1996, Chairawan adalah lulusan Akademi Militer (Akmil) 1980 pertama yang menembus pangkat kolonel, jauh mendahului Pramono Edhi Wibowo (kini Pangkostrad/Panglima Komando Cadangan Stretagis Angkatan Darat), yang baru mencapai pangkat kolonel pada akhir 1997, saat menjabat Asisten Operasi (Asops) Komandan Jendral (Danjen) Kopassus.

Karir Chairawan sempat terhambat saat kontroversi “Tim Mawar” mulai mencuat tahun 1998, di mana Chairawan termasuk yang dianggap paling bertanggungjawab. Karirnya mulai terang kembali saat diangkat sebagai Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa di Aceh (2005). Rentang waktu antara 1998-2005, adalah periode yang penuh tanda tanya bagi Chairawan, karena figurnya seolah “disembunyikan” dari perhatian publik. Seolah mengabaikan opini publik, seusai menjabat Danrem Lilawangsa, Chairawan justru dipromosikan sebagai perwira tinggi (brigadir jendral), dengan posisi sebagai Kaposwil (Kepala Pos Wilayah) Badan Intelijen Negara (BIN) di Aceh. Tampaknya berita promosi ini lepas dari perhatian publik, karena seperti umumnya penugasan di bidang intelijen, selalu jauh dari publikasi.

Jabatan yang sedikit “terbuka” bagi Chairawan diperolehnya  pada Mei 2010, ketika diangkat sebagai Kepala Dinas Jasmani Angkatan Darat (Kadisjasad) di Cimahi (Bandung), sebuah lembaga baru yang dibentuk di masa Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Djoko Santoso. Yang perlu diperhatikan adalah, bahwa penempatan Brigjen Chairawan sebagai Kadisjasad, semacam test case, untuk mengukur bagaimana resistensi publik terhadap figur Chairawan. Bila publik mulai lupa atas kasus yang menimpa Chairawan, bisa jadi dia akan masuk posisi yang lebih strategis. Pada Desember 2010, Chairawan melepas jabatan sebagai Kadisjasad, untuk dipromosikan pada salah satu pos eselon pimpinan di BAIS TNI.

Tetap bertahannya karir perwira seperti Chairawan, yang masa lalunya penuh kontroversi, menunjukkan satu hal, bahwa TNI sebenarnya menghadapi krisis kader, yaitu krisis kader perwira-perwira yang kualitasnya benar-benar meyakinkan. Di bidang intelijen, Chairawan dianggap mumpuni, sehingga karirnya terus bertahan. Terlebih dalam hitungan bulan, teman sekelasnya di Akmil, yaitu Letjen Pramono Edhie Wibowo akan menjadi KSAD, dipastikan posisi Chairawan akan tetap aman. Selain selalu ada celah, yang biasa disebut amnesia sejarah, yang menjadikan figur perwira kontroversial tetap bisa melenggang karirnya.(end)

[Sekarang ini sedang hangat dibahas Rancangan Undang-Undang Intelijen. Sebagai sumbangan pemikiran dan informasi latarbelakang (background information), maka Kanalinformasi mulai hari ini akan menurunkan seri tokoh intelijen Indonesia.]

|*|*| Berita ini boleh disadur dan dikutip dengan menyebut sumbernya. |*|*| Follow di Twitter: www.twitter.com/kanalinformasi. Email: kanalinformasi@isai.or.id . Keterangan foto by yuniarpw.wordpress.com

 

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *