666 Tahun Islam di Tanah Fakfak, Jejak Dakwah dari Maluku hingga Papua

Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten FakFak Papua Barat hadiri peringatan 666 Masuknya Islam ditanah Papua, Minggu (9/8).

FAKFAK, HN – Jejak Islam di Tanah Fakfak bukan sekadar cerita masa lalu. Lebih dari enam abad, ajaran Islam tumbuh dan hidup berdampingan dengan masyarakat serta tradisi lokal. Tahun ini, umat Islam di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, memperingati 666 tahun masuknya Islam di tanah tersebut.

Fakfak selama ini dikenal sebagai “Serambi Mekkah” Papua. Sebutan itu tidak lepas dari peran wilayah tersebut sebagai salah satu pintu awal masuk dan berkembangnya Islam di Tanah Papua.

Peringatan 666 tahun menjadi momentum untuk kembali menelusuri jejak para mubalig yang membawa ajaran Islam ke ujung timur Nusantara. Berdasarkan sejarah yang berkembang di masyarakat, Islam diperkirakan masuk ke Tanah Fakfak sekitar 1360 Masehi.

Para penyebar Islam awal disebut datang dari wilayah Maluku, khususnya Kesultanan Ternate dan Tidore, serta dari Jazirah Arab. Jalur pelayaran rempah menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan wilayah Maluku dengan pesisir Papua.

Dari jalur tersebut, para mubalig kemudian singgah di sejumlah wilayah pesisir Fakfak, seperti Kokas, Sekru, dan Patipi. Dakwah dilakukan secara damai dengan pendekatan budaya dan perdagangan.

Dalam sejarah Islam Fakfak, terdapat tokoh yang dikenal sebagai “Tujuh Tunas Islam” atau “Tujuh Orang Wali”. Mereka dipercaya sebagai bagian dari generasi awal penyebar Islam di Tanah Fakfak.

Warisan dakwah tersebut hingga kini masih dapat ditemui melalui berbagai peninggalan sejarah. Salah satunya Masjid Tua Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas.

Masjid yang dibangun pada 1878 itu menjadi salah satu peninggalan penting sejarah Islam di Fakfak. Keberadaannya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga penanda perjalanan panjang peradaban Islam di Tanah Papua.

Dakwah dan Tradisi Kerukunan

Perjalanan panjang Islam di Fakfak juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi kerukunan. Salah satu nilai yang hingga kini terus diwariskan adalah filosofi “Satu Tungku Tiga Batu”.

Filosofi tersebut menjadi simbol kehidupan masyarakat Fakfak yang mampu menjaga hubungan harmonis di tengah keberagaman agama. Islam, Kristen, dan Katolik hidup berdampingan dalam ikatan sosial dan budaya yang telah berlangsung turun-temurun.

Nilai itulah yang dinilai menjadi salah satu kekuatan masyarakat Fakfak. Sejarah masuknya Islam tidak hanya meninggalkan warisan keagamaan, tetapi juga nilai persaudaraan dan toleransi.

Peringatan 666 tahun masuknya Islam pun tidak sekadar menjadi seremoni. Berbagai kegiatan keagamaan dan kebudayaan digelar untuk menghidupkan kembali semangat dakwah sekaligus mengenalkan sejarah Islam kepada generasi muda.

Kegiatan tersebut di antaranya lantunan ayat suci Alquran, persembahan qasidah dari ibu-ibu pengajian, lomba dakwah, zikir, hingga berbagai kegiatan lainnya. Seminar sejarah Islam di Papua, pameran manuskrip dan benda pusaka Islam, serta ziarah ke makam para penyebar Islam juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan.

Bupati Fakfak Samaun Dahlan menegaskan, peringatan tersebut harus dimaknai lebih dari sekadar agenda tahunan.

“Ini tentang menghidupkan kembali semangat dakwah bil hikmah. Islam di Fakfak datang dengan cinta, bukan paksaan. Itu yang harus kita jaga sampai hari ini,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari laman resmi pemerintah daerah, Minggu (9/8).

Menurutnya, perjalanan panjang Islam di Fakfak merupakan bagian penting dari identitas daerah.

“666 tahun adalah bukti bahwa Islam telah mengakar, membumi, dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Fakfak,” katanya.

Peringatan tersebut turut dihadiri jajaran perangkat daerah, Forkopimda Fakfak, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, akademisi, pelajar, serta masyarakat Fakfak.

Kehadiran berbagai elemen masyarakat dalam momentum tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa sejarah Islam di Fakfak merupakan bagian dari perjalanan bersama masyarakat di Tanah Papua.

Lebih dari enam abad perjalanan Islam di Fakfak diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Nilai dakwah yang damai, persaudaraan, dan toleransi diharapkan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di tengah keberagaman masyarakat Papua, semangat rahmatan lil ‘alamin dan filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” menjadi warisan yang terus dijaga sebagai simbol persatuan dan kehidupan bersama.
(yun)

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *