<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Komentar di: Perkelahian Antar Mahasiswa Maluku Utara di Makassar, Satu Tewas	</title>
	<atom:link href="https://halmaheranews.com/perkelahian-antar-mahasiswa-maluku-utara-di-makassar-satu-tewas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://halmaheranews.com/perkelahian-antar-mahasiswa-maluku-utara-di-makassar-satu-tewas/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Apr 2011 15:10:56 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.1</generator>
	<item>
		<title>
		Oleh: Santika Situmorang		</title>
		<link>https://halmaheranews.com/perkelahian-antar-mahasiswa-maluku-utara-di-makassar-satu-tewas/#comment-26</link>

		<dc:creator><![CDATA[Santika Situmorang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 15:10:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://halmaheranews.wordpress.com/?p=441#comment-26</guid>

					<description><![CDATA[Ada kelompok mahasiswa sering ketemu SBY? Itu mahasiswa tidak punya harga diri, kawan. Tapi kita memang banyak pekerjaan rumah. Kita harus kritisi dan kritis pula mengenai hal berikut ini. Susno Duadji, peniup peluit itu, tidak pernah mendapat penghargaan, malah diganjar hukuman penjara. Tapi Kakak Najwa, bukan peniup peluit tapi hanya mengaduk-ngaduk perasaan masyarakat dan mengompor ulung, justru diberi penghargaan. Enggak habis pikir gimana kakak wartawati ini, Najwa Shihab, yang enggak ada nyali sedikitpun, dan beraninya hanya membuat acara dari sudut sejarah saja, seperti dalam acara Mata Najwa, bukan segi-segi aktual dan signifikan untuk kepentingan rakyat Indonesia masa kini, bisa mendapat award. Tapi wajar, semua lulusan Barat enggak akan terlalu sulit memperoleh penghargaan seperti itu, sebab ikut mempromosikan kepentingan Barat, atau setidaknya diam terhadap kebergsekan, kemunafikan dan standar ganda Barat. Padahal orang-orang seperti Kakak Najwa enggak mungkin punya mata dan hati serta mengkritisi Barat, sebab dia bekerja di media pengeruk keuntungan juga, bukan media total independen atau dibiayai sebuah yayasan norlaba. Kakak Najwa juga disekolahkan gratisan tepatnya melalui beasiswa dari pemerintah pro barat, dalam hal ini pemerintah Australia. Kalau ada wartawati/wan Indonesia lulusan non-Barat, misalkan lulusan Rusia atau bahkan Korea Utara, lalu mampu mendapat penghargaan itu, baru kita akan salut. Itulah jurnalisme sejati, jurnalisme tanpa berpihak. jadi kita harus sadar hal itu, ini bukan berarti saya kekiri-kirian. Ini bukan soal kiri dan kanan, tapi soal jelas dan nyata adanya kepentingan Barat, yang menyelinap halus di bangsa ini melalui rezim-rezim sejak masa Soeharto, dan diteruskan rapi oleh SBY. Media tempat Kakak Najwa bekerja pun sangat bangga dan sangat ambil manfaat ini, untuk maksud-maksud ekspose, seperti saat membanggakan semu pada wartawati Andini Effendi yang dikirim ke Libia dan negara tetangganya, tanpa menghasilkan liputan-liputan besar, tapi hanya seolah dekat dengan mara bahaya, bom-bom berjatuhan, dan tersirat seakan dia “dekat nyaris kena bom”. Itu bukan berita. Lebih baik ambil dari kantor berita Tv-Tv Barat yang sangat rinci dan canggih dalam melihat kebenaran, dalam melihat siapa yang benar dan siapa yang jelas. Penguasa macam Khadafi justru diam-diam dibela oleh MetroTV, terlihat dari uraian-uraian MetroTV, hanya karena mungkin takut kurang membela umat Islam, itu sebuah blunder Metro TV. Itu semua hanya untuk gengsi-gengsian saja. Tidak ada yang bermakna, melihat kebenaran pun tidak mampu, samasekali.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada kelompok mahasiswa sering ketemu SBY? Itu mahasiswa tidak punya harga diri, kawan. Tapi kita memang banyak pekerjaan rumah. Kita harus kritisi dan kritis pula mengenai hal berikut ini. Susno Duadji, peniup peluit itu, tidak pernah mendapat penghargaan, malah diganjar hukuman penjara. Tapi Kakak Najwa, bukan peniup peluit tapi hanya mengaduk-ngaduk perasaan masyarakat dan mengompor ulung, justru diberi penghargaan. Enggak habis pikir gimana kakak wartawati ini, Najwa Shihab, yang enggak ada nyali sedikitpun, dan beraninya hanya membuat acara dari sudut sejarah saja, seperti dalam acara Mata Najwa, bukan segi-segi aktual dan signifikan untuk kepentingan rakyat Indonesia masa kini, bisa mendapat award. Tapi wajar, semua lulusan Barat enggak akan terlalu sulit memperoleh penghargaan seperti itu, sebab ikut mempromosikan kepentingan Barat, atau setidaknya diam terhadap kebergsekan, kemunafikan dan standar ganda Barat. Padahal orang-orang seperti Kakak Najwa enggak mungkin punya mata dan hati serta mengkritisi Barat, sebab dia bekerja di media pengeruk keuntungan juga, bukan media total independen atau dibiayai sebuah yayasan norlaba. Kakak Najwa juga disekolahkan gratisan tepatnya melalui beasiswa dari pemerintah pro barat, dalam hal ini pemerintah Australia. Kalau ada wartawati/wan Indonesia lulusan non-Barat, misalkan lulusan Rusia atau bahkan Korea Utara, lalu mampu mendapat penghargaan itu, baru kita akan salut. Itulah jurnalisme sejati, jurnalisme tanpa berpihak. jadi kita harus sadar hal itu, ini bukan berarti saya kekiri-kirian. Ini bukan soal kiri dan kanan, tapi soal jelas dan nyata adanya kepentingan Barat, yang menyelinap halus di bangsa ini melalui rezim-rezim sejak masa Soeharto, dan diteruskan rapi oleh SBY. Media tempat Kakak Najwa bekerja pun sangat bangga dan sangat ambil manfaat ini, untuk maksud-maksud ekspose, seperti saat membanggakan semu pada wartawati Andini Effendi yang dikirim ke Libia dan negara tetangganya, tanpa menghasilkan liputan-liputan besar, tapi hanya seolah dekat dengan mara bahaya, bom-bom berjatuhan, dan tersirat seakan dia “dekat nyaris kena bom”. Itu bukan berita. Lebih baik ambil dari kantor berita Tv-Tv Barat yang sangat rinci dan canggih dalam melihat kebenaran, dalam melihat siapa yang benar dan siapa yang jelas. Penguasa macam Khadafi justru diam-diam dibela oleh MetroTV, terlihat dari uraian-uraian MetroTV, hanya karena mungkin takut kurang membela umat Islam, itu sebuah blunder Metro TV. Itu semua hanya untuk gengsi-gengsian saja. Tidak ada yang bermakna, melihat kebenaran pun tidak mampu, samasekali.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Nadzir		</title>
		<link>https://halmaheranews.com/perkelahian-antar-mahasiswa-maluku-utara-di-makassar-satu-tewas/#comment-25</link>

		<dc:creator><![CDATA[Nadzir]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 07:08:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://halmaheranews.wordpress.com/?p=441#comment-25</guid>

					<description><![CDATA[Kronologis sebenarx apa..?
kok smpe bisa terjadi seperti itu.......
bener2 sangat d sayangkan.....Hidup merantau dgn tujuan sekolah, bknx melakukan tujuan yg wajib harus d lakukan malah melakukan hal0hal yg bener2 merugikan.......

perlu adanya bnyk sosialisasi antar mahasiswa dr MALUT agar tidak terjadi lagi seperti itu....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kronologis sebenarx apa..?<br />
kok smpe bisa terjadi seperti itu&#8230;&#8230;.<br />
bener2 sangat d sayangkan&#8230;..Hidup merantau dgn tujuan sekolah, bknx melakukan tujuan yg wajib harus d lakukan malah melakukan hal0hal yg bener2 merugikan&#8230;&#8230;.</p>
<p>perlu adanya bnyk sosialisasi antar mahasiswa dr MALUT agar tidak terjadi lagi seperti itu&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 20/44 objects using memcached
Page Caching using disk: enhanced 
Database Caching using redis

Served from: halmaheranews.com @ 2025-05-26 05:20:56 by W3 Total Cache
-->