Citizen reporter : Delfi Merdeka melaporkan

“ Maihara…Maihara…Maihara..!!” Para pelaut Portugis diatas anjungan kapal layar itu berteriak-teriak kegirangan, mereka menunjuk satu pulau kecil dengan pemandangan pesisir pantai yang sangat indah. Pulau kecil itu diapit diantara dua pulau besar lainnya. Ketika itu sekitar abad 14 dan 15, para pelaut Portugis tengah menjelahah dunia dan tiba di perairan Moloku Kie Raha (empat kesultanan di Maluku Utara) dalam perburuan barang paling berharga pada masa itu, yaitu rempah-rempah dari Maluku.
Pulau kecil yang diapit dua pulau besar itu kemudian lama kelamaan disebut orang sebagai pulau Maitara, yang berasal dari kata maihara, bahasa Portugis ketika itu, yang bermakna sebagai kata yang mengungkapkan sebuah kekaguman atas keindahan alam yang tiada tara, dan dapat disaksikan dengan kasat mata. Sementara dua pulau besar yang mengapit pulau indah itu tak lain adalah pulau Tidore dan pulau Ternate, tempat bertakhtanya dua kesultanan besar dari empat kesultanan di Maluku Utara, yang pada masa itu wilayahnya membentang luas hingga ke Papua dan Filipina.
Tapi kekaguman para pelaut Portugis itu hanya salah satu kisah dari legenda tentang penemuan pulau indah bernama Maitara. Masyarakat di Maitara juga punya cerita sendiri tentang asal muasal pulau eksotis tersebut.
Dahulu kala, tersebutlah seorang jawara bernama Hamatara, yang dengan segala kekuatannya memegang kendali dan dominasi di sepanjang tanjung Ngusu Lenge. Suatu ketika, ada seorang laki-laki bernama Tahisa yang menggalang kekuatan rakyatnya dari Toloa Tidore untuk merebut pulau indah itu sebagai tempat kedua bagi anak cucu dan generasinya kelak.
Pagi-pagi buta, saat semburat merah baru muncul di ufuk timur Halmahera, Tahisa berujar dihadapan rakyatnya, “sengsara mega, mai to tora..!!” sesulit apapun itu, mari kita berusaha !!. Maka berangkatlah Tahisa dan bala tentaranya menyerang ke tanjung Ngusu Lenge. Perang sengit tak terelakkan, dan Hamatara yang tak menyangka diserang di pagi buta akhirnya takluk pada Tahisa.
Hamatara, jawara dari tanjung Ngusu Lenge itu mendayung pelan sampannya meninggalkan pulau itu, diiringi tatapan mata Tahisa dan para pendukungnya. Lalu ketika bayangan perahu Hamatara menghilang dari pandangan, Tahisa menggenggam dayung mengacungkan tinggi-tinggi sambil berseru ”mai to tora..!!.”. Pekikan Tahisa itu lalu disambut teriakan yang sama dari pendukungnya, “mai to tora..!!…mai to tora..!!.. mai to tora..!!. Seruan itu pula yang kelak melahirkan nama Maitara.
Pulau Eksotis Yang Belum Dikelola Dengan Baik
Maitara, pulau eksotis ini berada diantara pulau Tidore dan Pulau Ternate, dan masuk dalam wilayah administrative kota Tidore Kepulauan, provinsi Maluku Utara. Bagi masyarakat Maluku Utara, pulau Maitara bukanlah sesuatu yang asing lagi, namun bagi mereka yang berada diluar Maluku Utara, mungkin sejenak bias melihat gambar pada salah satu sisi pecahan Rp.1000, tahun emisi 2009, disana anda bisa menemukan pulau Maitara yang tergambar sebagai latar belakang pulau Tidore dengan gunung Kie Matubu yang menjulang tinggi.
Pulau dengan keindahan laut dan pantai pasir putihnya ini bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 10 menit dengan menggunakan transportasi laut melalui pelabuhan Rum Tidore, atau bila berangkat dari pelabuhan Bastiong Ternate, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan menggunakan speedboat, atau kurang lebih 30 menit, dengan menggunakan motor kayu (perahu kayu berukuran sedang).
Saat menjejakkan kaki di pulau Maitara, selain pemandangan pasir putih dan deretan perahu-perahu nelayan yang terparkir dengan indah di tepi pantai, hal menarik lainnya yang bisa ditemui adalah Tugu Amo, sebuah tugu dengan ujungnya replika buah sukun, atau dalam bahasa masyarakat Maluku Utara disebut dengan buah amo. Tugu Amo ini akan menyambut anda ketika tiba di pintu masuk pelabuhan Maitara. Pohon amo ini memang banyak tumbuh di pulau Maitara, dan amo Maitara ini memang terkenal kelezatannya, apalagi dioalah dengan cara menggorengnya hingga gurih.
Sayangnya pulau eksotis dengan segala potensi wisata pantainya yang indah ini belum dikelola dengan baik. Pemerintah dan masyarakat Maluku Utara perlu berusaha lebih giat lagi menjadikan Maitara sebagai salah satu potensi wisata bahari, yang bisa membawa dampak baik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pulau Maitara dan Maluku Utara pada umumnya.
Walaupun mengembangkan Maitara sebagai kawasan wisata bahari yang terkenal diseantero negeri bukanlah sesuatu yang mudah, tapi semuanya bisa dimulai dengan kerja yang sungguh-sungguh, sebab bukankah legenda Tahisa dan pasukannya telah mengajarkan tentang semangat pantang menyerah hingga usaha tercapai?. Mai To Tora..!!…Mai To Tora..!!.. Mai To Tora..!!.(end)
*diolah dari berbagai sumber………





Sebelum masuknya Portugis. Pulau kecil diantara Tidore dan Ternate itu punya nama Maitara. Jadi pendapat itu tidak benar. Kisah Masyarakat setempat ttg asal muasal Nama Maitara, ada benarnya…
iyo,,, sayang skali Maitara tdk dikelola scara maksimal. btw, Saya pnah jg mendengar ttg keistimewaan Pulau Maitara. katanya dulu itu, bangsa Jepang bersedia membangun Jembatan dari Tidore – Ternate. smua bahannya dan tenaga kerja dan biayanya ditanggung 100% oleh Jepang. pokoknya orang Tidore Ternate tau jadi saja(tarima bersih). Tapi imbalannya yaitu Pulau Maitara dan isisnya dipindahkan ke Jepang, diangkut semua tanahnya ke Jepang. karena, Pulau Maitara memiliki kualitas semen no 1 Dunia.
tapi untungnya Bupati Tidore wkt itu menolak tawaran Jepang.
ini hny berita yg saya dengar di Leger2 saja, tratau dia p kebenaran sperti itu atau tdk… itu tugas Kita2 utk mencari tahu….
Ok, saatnya cari Amo goreng…