BANTEN, HN — Di antara ratusan peserta Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Tingkat Nasional 2025, ada satu wajah kecil yang berkilau penuh harap: Faqih Abrizam Rivai, siswa MIS Fathul Munir Kota Ternate. Kamis (14/11/2025) menjadi hari yang tak akan ia lupakan. Namanya dipanggil sebagai peraih Medali Perunggu bidang IPAS. Tangannya bergetar, matanya memerah—bukan karena lelah, tapi karena mimpi yang selama ini ia simpan rapat-rapat, akhirnya terwujud.
Faqih bukan berasal dari sekolah besar dengan fasilitas mewah. Ia belajar dari ruang kelas sederhana, dengan tumpukan buku yang sebagian ia pinjam dari perpustakaan madrasah. “Faqih itu anak yang tidak banyak bicara. Tapi kalau sudah pegang buku, dia seperti lupa dunia,” ujar salah satu guru pendampingnya.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Faqih membantu orang tuanya merapikan toko kecil di depan rumah. Barulah setelah itu ia berangkat ke madrasah, membawa semangat yang jauh lebih besar daripada ukuran tubuhnya.
Saat tiba di Banten, Faqih mengaku sempat diliputi rasa takut. Ia melihat peserta dari berbagai provinsi membawa berkas, buku catatan, dan alat belajar yang jauh lebih lengkap dari miliknya.
“Tapi saya ingat pesan ibu… ‘Jangan lihat apa yang mereka punya, lihat apa yang kamu bisa,’” katanya lirih kepada tim pendamping setelah pengumuman.
Pesan sederhana itu membuatnya kembali teguh. Di ruang kompetisi, ia mengerjakan soal dengan kepala yang tegak, meski dadanya terus berdegup kencang.
Ketika namanya diumumkan sebagai peraih medali, guru-guru pendamping sontak menitikkan air mata. Bagi mereka, medali itu bukan sekadar capaian akademik. Itu adalah simbol perjalanan panjang seorang anak madrasah yang belajar tekun dalam keterbatasan, tetapi tidak pernah berhenti bermimpi.
Kepala Kanwil Kementerian Agama Maluku Utara, H. Amar Manaf, menyebut capaian Faqih sebagai bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.
“Faqih mengajarkan kita bahwa semangat, ketekunan, dan dukungan keluarga adalah fondasi terkuat bagi seorang anak. Prestasinya bukan hanya milik madrasah, tetapi milik seluruh Maluku Utara,” ungkapnya.
Di balik medali perunggu yang kini menggantung di lehernya, Faqih masih menyimpan mimpi yang lebih tinggi: ia ingin menjadi ilmuwan. Ia ingin membuktikan bahwa anak-anak dari kota kecil seperti Ternate bisa berdiri sejajar dengan siapa pun di Indonesia.
“Saya ingin belajar lebih banyak lagi. Supaya bisa buat orang tua bangga,” ujarnya sambil menggenggam erat medalinya.
Perjalanan Faqih Abrizam Rivai adalah pengingat bahwa prestasi besar sering lahir dari tempat-tempat sederhana. Dan di tangan anak-anak seperti Faqih, masa depan Maluku Utara tampaknya menemukan secercah cahaya baru. (rd)





