Parade Armada Perang Hongi Taumoi se Malofo Kesultanan Tidore

Citizen reporter : Delfi Merdeka melaporkan dari Tidore

[halmaheranews-TIDORE-11/4/11]  “Hongi Taumoi se Malofo” atau barisan Juanga se Kangunga yang berarti barisan dua belas perahu kora-kora dari Sangaji se Gumalaha itu, bergerak pelan meninggalkan pelabuahn kesultanan Tidore. Rombongan armada perang kesultanan itu akan menggelar sebuah ritual yang bernama Lufu Kie, yaitu ritual mengelilingi pulau Tidore.

Lufu Kie, bukan sekedar ritual biasa mengelilingi pulau Tidore sebagai sentrum pemerintahan kesultanan Tidore, tapi juga bermakna politis, karena sekaligus menjadi ajang pamer kekuatan armada perang laut kesultanan Tidore kepada musuh-musuh asing yang bercokol di jazirah Moloku Kie Raha (empat kesultanan di Maluku Utara) untuk perebutan monopoli perdagangan rempah-rempah serta kepentingan imperialisme barat pada abad ke 15 ketika itu.

Tapi pagi itu, hari sabtu (9/4) pukul 09.00 pagi, Hongi Taumoi se Malofo yang bertolak meninggalkan pelabuhan kesultanan Tidore dan bergerak menuju ke utara itu, tidak lagi memiliki spirit sama seperti yang pernah diperlihatkan para kapita-kapita perang ketika itu. Perjalanan Lufu Kie Hongi Taumoi se Malofo kali ini adalah semacam perjalanan napak tilas dan perjalanan untuk mempertahankan tradisi kesultanan agar tetap lestari, sebuah pagelaran budaya yang digelar oleh pemerintah kota Tidore Kepulauan dalam rangkaian acara peringatan HUT Kota Tidore Kepualauan yang ke 903.

Prosesi ritual adat Lufu Kie sendiri diawali dari Kedaton Kesultanan Tidore. Sultan Tidore yang diwakili Jojau (Perdana Menteri), Walikota dan Wakil Walikota sebelum keluar dari kedaton, dibacakan salawat oleh Imam Ngofa, kemudian Imam Togubu membacakan doa selamat. Selanjutnya walikota, Jojau dan rombongan berjalan kaki dari kedaton menuju doro kolano atau dermaga Kesultanan. Sebelum naik ke kagunga, imam kesultanan Tidore membacakan doa selamat. Kemudian, Jojau mengeluarkan idin kepada Gimalaha Marsaoly ”Sogaro Hongi”, Gimlaha Marsaoly meneruskan idin tersebut Kepada Gimalaha Tomalou ”tola pandara, naro tapu”, dan Gimalaha Tomalou menyerukan ”Hongi Taumoi se Malofo”. Maka bertolaklah barisan perahu juanga sesuai urutan diikuti perahu Kagunga Sultan diiringi pukulan tifa.

Suasana haru sempat terlihat ketika rombongan Lufu Kie tiba di depan perairan Dodoku Ali atau searah dengan Kedaton Kesultanan Ternate dan disambut oleh Bobato adat Kesultanan Ternate. Saat itu barisan juanga dan Kagunga (Perahu Perang Sultan Tidore) yang dinaiki Walikota Tidore Drs. H. Achmad Mahifa, Wakil Walikota Drs. Hamid Muhammad, Jojau atau Perdana Menteri Kesultanan Tidore, H. Ridwan Do. Taher bersama bobato adat dan imam syara Kesultanan Tidore disambut dengan penghormatan secara adat atau suba oleh Bobato Adat Kesultanan Ternate.

Imam Kesultanan Tidore diatas Kagunga Jou Lamo atau perahu Sultan kemudian membacakan doa dan diamini oleh seluruh barisan Juanga serta Bobato Adat Kesultanan Ternate dari dermaga Dodoku Ali yang telah membentuk barisan. Kemudian Jojau Kesultanan Tidore menyampaikan salam dan risalah

Sepanjang rute yang dilalui dan 19 keramat para waliullah da auliah yang disinggahi, mendapat sambutan meriah dari ribuan orang yang memadati tepi pantai. Parade perahu kesultanan ini menarik minat masyarakat kota Tidore yang ingin melihat dari dekat saat armada tersebut melewati perkampungan mereka. Beberapa tempat yang terlihat ramai dipadati adalah di kawasan proyek pantai Tugulufa, pelabuhan Goto dan di area Pelabuhan Pasar Ikan Goto.

Ketua Panitia Hari Jadi Kota Tidore Ke 903, Drs. H. Asrul Soleiman, mengatakan sukses dan lancarnya Lufu Kie berkat dukungan semua pihak, terutama warga masyarakat di setiap desa dan kelurahan. Sementara itu, Senin (11/4) malam nanti, rangkaian kegiatan budaya menjelang Hari Jadi Kota Tidore dilanjutkan dengan prosesi adat malam Setanggi Timur dan Paji Dama Nyili-nyili.(end)

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *