Oleh : Munzir Daeng Abdullah
Pegiat Kajian Filsafat & Humaniora
Allah berfirman dalam Hadits Qudsi. Seluruh amalan anak Adam itu untuk mereka sendiri kecuali puasa. Sungguh puasa itu untuk – ku. Akulah yang langsung memberikan imbalannya. Puasa sebagai perisai…
Puasa telah berlalu. Bulan penuh berkah itu pergi meninggalkan dua jejak. Jejak bagi yang khusuk dan yang lalai. Bagi yang khusuk rasanya terlalu cepat dan bagi yang lalai malah sebaliknya. Setelah 30 hari bertarung memerangi hawa nafsu, Manusia kemudian mensucikan dirinya dengan membayar fitrah yang dimaknai sebagai puncak kemenangan. Euforia kemenangan itu disambut dengan suka cita. Bahkan orang yang sehari puasa dan sehari tidak pun, disibukan membayar Fitrah.
Puasa sejatinya tidak hanya dikerjakan dibulan Ramadan. Tapi puasa adalah Habitus sehari hari. puasa adalah ketundukan. Al-gazali berkata, puasa itu ada tiga tingkatan. Pertama, puasa orang Awam, yang hanya merasakan lapar dan haus serta tidak bergaul dengan pasangan di siang hari. Kategori Fiqih / Sariat. Kedua, puasa orang khusus atau Sholeh yaitu menahan lapar dan haus serta menjaga perilaku, baik tangan, mata, kaki, mulut dan telinga Ketiga, puasa orang yang lebih khusus atau puasa para nabi dan waliyullah, yaitu disamping menahan lapar, hatinya selalu ruku’ dan bertasbih kepada allah. ketika selesai berbuka mereka kemudian berpuasa kembali melalui puasa hati. Menghilangkan semua yang Profan dalam hati dan menghadirkan zat yang Tajali. Standar batalnya puasa sangat tinggi. Inilah hakikat puasa yang sesungguhnya.
secara ontologis, puasa adalah meniru sifat Allah. Lewat puasa manusia menderivasi cara Allah bekerja. Sifat Allah yang tidak makan dan minum serta mencipta, diimperativkan kepada manusia untuk menirunya. Manusia menjadi tuhan kecil dalam pengertian partikular.
Amal Ibadah puasa, berbeda dengan amal lainnya. Semiotik itu terselip dalam kalimat sungguh ibadah puasa itu untuk – ku. Akulah yang langsung memberikan imbalannya, terdapat rahasia yang disembunyikan, orang yang berpuasa seolah olah memperhadapkan mata batinnya dengan Allah secara diametral. Karena Allah langsung mengawasinya. Puasa adalah perkerjaan hati. Allah bersemayam dihati orang orang yang
bertaqwa.Jika ibadah lain terkadang dipertontonkan, maka puasa hanyalah Allah yang tau.
Setelah ruh dan tubuh manusia sesak Deng dosa, maka puasa menjadi Recoveri dan pembersihan ruh. Adalah Milestone untuk membentuk pribadi yang Kamil. Pribadi yang Berpijak di bumi tapi ruh mengalami Penanjakan dan tamsya diarsynya. Puasa secara ma’rifat adalah sublimasi dari kesabaran. Dan Allah menjamin dengan Kesabaran itu, menjadi perisai bagi Jannahnya yang abadi. Allah berfirman : sesungguhnya hanya orang orang sabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa di hisab. ( QS. Az – zumar : 10 )
Puasa adalah ibadah vertikal yang bernilai harisontal. Puasa melekat tauhid sosial. Puasa mengambil pahala seper empat lebih besar dari ibadah lain. karena puasa mengexercise nilai kesabaran sedangkan kesabaran itu melampaui iman. Puasa memiliki nilai transenden tertinggi.
Sebagaimana Islam hadir untuk Membebaskan manusia dari kemusrikan dan penjara dunia yang membelenggu. Tamak, egois, dan menumpuk harta. Maka Puasa pun, mengemban tugas pembebasan. Karena puasa mensejajarkan manusia berpunya dan kaum duafa. Dimensi kesejajaran itu berupa merasakan lapar dan penderitaan orang lain.dan berbagi terhadap sesama. Bukankah Nabi bersabda : Tidaklah beriman seseorang yang kenyang semalaman, sedangkan tetangganya lapar disampingnya. Padahal dia mengetahuinya. ( HR. At-thabrani )
Puasa ibarat putaran jarum jam. Berputar dari hitungan Pukul 01 dini hari lalu berakhir dipukul 24 malam berikutnya. kemungkaran manusia beredar disebelas bulan lalu di sucikan disatu bulan ramadhan. Idul Fitri menjadikan manusia kembali suci tak tergores seperti bayi. Dilahirkan kembali sebagai manusia seutuhnya. Kepergian puasa membuat manusia kembali ke titik nol. memulai hidup baru. melewati oase panjang didepannya yang membentang luas tak bertepi, hidup baru yang bergelut dengan enigma. Puasa ibarat jalan pintas untuk tiba pada kesucian diri. Sebagaimana sabda nabi ; Barang siapa berpuasa Ramadhan Dengan ketakwaan dan mengharapkan Ridha Allah, maka diampuni dosa2 terdahulu ( HR Bukhari )
Fitrah yang menjadi puncak dari puasa ibarat mendaur ulang hakikat manusia. Kembali kepada proses penciptaan awal. Dimana Adam di ciptakan Allah dari tangannya dalam keadaan agung dan suci. karena alasan manusialah Allah menciptakan Alam dan isinya. Hal itu termaktub dalam Alquran, ketika Allah SWT menciptakan Adam dan memerintahkan kepada malaikat dan iblis untuk tunduk kepada Adam namun iblis menolaknya. Allah berfirman : Hai iblis apa yang menghalangimu sujud kepada mahluk yang ku ciptakan dengan tanganku,? ( Q.S Shod : 75 )
Allah maha tau, Karena hanya manusia yang mampu mengerjakan perintah Allah. Manusia mampu menerima amanah Allah untuk mengelola kosmologi lewat ciptaannya. Malaikat hanya mampu menerangi karena terbuat dari cahaya, iblis hanya mampu membakar karena tercipta dari api. Sedangkan Manusia mampu mengelola alam dan seluruh isinya. Karena tanah yang menjadi unsur penciptaan manusia, mengandung sumber kehidupan.
Allah amanahkan Alam semesta kepada manusia untuk mengelolanya dan menjadi Khalifah agar mengenali kebesarannya. Bukankah allah berfirman dalam Hadits Qudsi,,,Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, aku ciptakan manusia karena aku ingin di kenal. Sebagai maha pencipta, Allah pun ingin di kenal Karena hanya manusia yang mampu melihat tanda tanda kebesarannya dan mengerjakan perintahnya. Maka lewat puasa manusia berkesempatan untuk menjadi pribadi yang agung alias insan kamil.
Puasa adalah jalan pulang. Proses mengembalikan ruh dan raga pada tempatnya. Ruh yang sadar akan kefanaannya ditengah eksistensi manusia yang imanen. Ruh yang berupaya mengeksiskan dirinya menyatu dengan transenden. Mencoba menghadirkan sifat Tuhan dalam kesementaraanya. Kesadaran eksistensi yang mengakui bahwa kefanaan manusia sebagai akibat, tentu lahir dan tumbuh dari sebab segala yang ada serta tak terhingga. Berpuasalah di sepanjang tahun. Semoga kita termasuk orang orang Takwa dan Kamil. Di bangkitkan dengan Wajah yang senyum bahagia di hari perhitungan. Dan dapat memandang Wajah Allah secara langsung sebagaimana ia janjikan, Wassalam (*)




