Citizen reporter : Noer Zapata, melaporkan dari Ternate
[halmaheranews.-TERNATE-3/5/11] Bersama seorang anak kecil itu, ia mampir dihalaman kantor WALHI MALUT. “adakah baju bekas, atau baju tua yang sudah tak digunakan lagi ?”, tanyanya pagi itu tanpa basa basi, atau ucapan selamat pagi. Eros dan Bongky saling melempar peran untuk bertemu dengannya. Kami bertiga di dalam ruangan rapat, hanya memandangnya dari balik jendela. Selang 5 menit, ia kutemui. Nampak kusut dan kusam pakaian yang dikenakan, dengan sedikit titik-titik peluh didahi, pak tua itu melempar senyum sapa ke arah ku. Diulang lagi kalimat tadi, tentang baju bekas yang sudah tak kami gunakan lagi. Tak ada kata tau kalimat yang keluar dari mulutku. Ia hanya kupandangi. Juga anak kecil itu.
Ku bongkar lemari pakaian, sementara istriku hanya memandang dengan tatapan tanya. Tak ada pakaian bekas, karena semakin kusam dan tua pakaian, semakin kunikmati pelapis tubuh itu. Pakaian tua yang ada, hanyalah kaos peninggalan masa perang yang penuh sejarah. Ada lambang Zooxanthellae juga logo SHI dan WALHI. Bingung kutatapi lemari pakaian yang sudah ditata apik istriku. Tak ikhlas kuserahkan beberapa pakaian yang sudah hampir lapuk dimakan waktu. Mereka yang kusam itu, lebih sering kukenakan, dibanding yang lain. 2 lembar kaos, istriku keluarkan. Satu lembar, berlogo WALHI 30 tahun, yang satunya lagi kaos bergambar budaya lokal.
Kubungkus dengan plastik, lalu Ido dan Eros saweran hingga terkumpul 20.000 rupiah, untuk diserahkan pada si orang tua itu. Di halaman depan kantor, Bongky sedang menyuguhkan 2 gelas air mineral untuk si bapak dan sang bocah yang bertubuh ceking sedikit berdekil. Air diteguk perlahan dengan sesekali mengeluarkan bunyi sedakan kerongkongan yang kerontang mengilustrasikan dahaganya. Kuserahkan padanya bungkusan pakaian (baru bukan bekas), beserta amanat Eros dan Ido. “terima kasih Pak”, ucapnya sambil memposisikan diri pamit, berdiri dengan bertopang satu kaki, dan hendak berlalu. “kenapa kakinya abah ?”, tanyaku mencegah ia berlalu. “oh, salah suntik, dulu waktu sakit orang tua bawa ke dokter, sampe kaki kanan ini jadi kecil. Saya dari kepulauan Ibu, merantau ke Ternate, dulu tinggal di Lelong, tapi pemukiman itu sudah dibakar, jadi terpaksa saya menumpang di Mangga Dua”, jawabnya, sekaligus berkisah. “terima kasih Pak”, ujarnya lagi lalu berlalu menapaki bumi dengan melompat bersanggah satu kakinya yang masih utuh.
Ia melompat. Yah, gici-gici, cege-cege, cenge-cenge orang lokal mengistilahkan gerakan itu. Yah, dengan gici-gici ia melangkahi bumi, menjalani sepenggal hidup, hanya “mungkin” dengan asa dan spirit. Tentu ada fenomena yang lebih dramatis lagi dari kisah hidup orang tua itu, “sementara “kami”, kita masih terus berdebat mendefenisikan kemiskinan di atas altar-altar ORNOP yang penuh tumpukan surat kabar dan bermacam literatur ilmiah. Dan begitu fasih merapalkan mantra filsafat cogito ergo sum bahwa aku berpikir maka aku ada, bahwa aku ikut aksi maka aku ada, bahwa aku seorang aktivis. Tak mengapa namun terkadang salah kaprah dan terjerembab dalam arogansi eksistensialisme”. gerutuku.
Sementara SBY bersama jajaran kabinetnya semakin tambun dengan menyedot (baca mengemis) legitimasi arus bawah melalui politik pencitraan yang tak ketinggalan mengisi momentum hari buruh dengan mengumbar senyum petaka ditengah kebisingan pabrik-pabrik yang penuh dengan eksploitasi keringat nilai lebih. Lalu coorporasi pada modal berjalin kelindai bersama birokrasi (kooporatokrasi) tak pernah berhenti melakukan ecocide, “memperkosa bumi” menjarah lahan petani, mengotori lahan tangkap nelayan, dan mengklaim tanah nusantara sebagai jaminan pinjaman lembaga donor, agen neolib. Dan kelak mendonor darah jutaan rakyat untuk melunasinya. Dan kita semua tahu itu.
Dengan dua kaki yang utuh kita berpijak dan bergerak, namun masih saja melangkah pincang sambil meraba-raba titk temu paradigma tentang arah STRATAK gerakan, terpilah dalam entri poin issu nasionalisasi atau tolak tanpa mengukur signifikansi keduanya. Maka tenggelamlah kita dalam kubangan primordialisme. Sementara parlemen! Ah, tak ada lagi yang diharapkan disana. Dan nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”…Tabea (*itevsky feat Edovsky)
Kantor WALHI MALUT, 2 mei 2011
(ruangan yang sesak dengan bau bangakai tikus)




