Ragam  

Rumah Ikan Lumba-Lumba di Pulau Mare dan Museum Rempah-Repah di Malut

Citizen repoter : Om Gogo melaporkan

Wisata Lumba-Lumba : Sejumlah wisatawan dalam negeri tengah menyaksikan dari kejauhan permainan atraktif ikan lumba-lumba di perairan Pulau Mare (foto by. Om Gogo)

[halmaheranews-JAKARTA-1 Mei 2011] Potensi alam dan sejarah Kota Tidore Kepulauan kembali mendapat perhatian serius dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indoneisia (Kemenbudpar RI). Dirjen Pemasaran Kemenbudpar-RI, Sapta Nirwanda, menyatakan optimismen saat hadir sebagai pembicara dalam seminar dan lokakarya ( Semiloka) Visi Morotai 2015-2020 dengan tema ’Akselarasi Pengembangan Pariwisata Bahari Maluku Utara-Sail Morotai 2012’, yang berlangsung Jum’at (29/4) lalu di Hotel Akmani, Jakarta.

Menurut Sapta kota Tidore Kepulauan merupakan daerah tujuan wisata yang layak untuk dikunjungi karena sudah terkenal dengan panorama alamnya yang indah. ”Kota Tidore sudah terkenal melalui promosi pecahan uang seribu rupiah, semoga kedepan panorama Tidore dapat ditampilkan pada pecahan rupiah yang lebih besar lagi,” ungkap Sapta.

Sebelumnya Direktur Promosi Dalam Negeri, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, M. Faried Murtolo, di sela-sela kunjungan kerjanya di Kota Tidore Kepulauan pertengahan April lalu mengagumi keindahan alam dan potensi wisata di Kota Tidore Kepulauan. M. Faried bahkan mengemukakan bahwa Kemenbudpar RI bakal menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan untuk mempromosikan dan menjual potensi wisata Tidore di kota-kota besar di Indonesia bahkan di luar negeri.

Selain menyebutkan secara khusus potensi yang dimiliki Kota Tidore, Sapta Nriwanda juga menyampaikan bahwa Maluku Urara perlu menyiapkan museum rempah-rempah untuk mengembalikan kejayaan Maluku Utara masa lalu.

Lumba-lumba : Rombongn ikan lumba-lumba berenang disekitar perairan Pulau Mare (foto by. Om Gogo)

Sementara itu dalam semiloka tersebut, pemerintah kota Tidore Kepulauan melalui Kepala Bidang Pengembangan Wisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan, Nurmina Saleh, mengemukanakan, setiap perwakilan kabupaten kota se- Maluku Utara juga dipersilahkan menyampaikan program pendukung Sail Morotai Indoensia 2012.

Dinas Kebudayaan dan Pariwista Kota Tidore Kepulauan memaparkan tentang Kahia Masolo atau rumah ikan lumba-lumba di Pulau Mare, sebagai salah satu titik wisata, mendapat perhatian serius dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI.

”Salah satu Deputi dari DKP RI tertarik dengan rumah ikan lumba, dan telah menyampaikan kepada Kadis Pariwisata Kota Tidore, H. Asrul Sani Soleiman, bahwa pihaknya akan berupaya melakukan konservasi, dengan diawali penelitian lanjutan untuk melindungi dan melestarikan komoditas lumba-lumba di Pulau Mare tersebut sehingga tidak punah,” jelas Nurmina.

Nurmina Saleh menambahkan salah satu hasil rekomendasi semiloka yang akan diteruskan kepada DPR RI, Kemenbudpar, Gubernur Maluku Utara, Bupati Morotai,  DPRD antara lain adalah event Sail Morotai, yang merupakan ajang promosi dan investasi Maluku Utara perlu direspon oleh Kementerian maupun lembaga terkait dan daerah dalam melakukan koordinasi dan sinergitas program dan kegiatan, guna mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Maluku Utara secara spesifik dan Indonesia secara umum.

Semiloka hasil kerjasama antara Dirjen Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI dengan Malut Crisis Center, tersebut dihadiri sekitar 100 orang peserta, antara lain dari Dirjen Pengembangan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan RI, Deputi V Menkokesra RI, Sekda Propinsi Malut selaku Ketua Sail Indonesia Morotai 2012, Bupati Morotai, Asisten Sekda Bidang Tata Pemerintahan Kota Tidore Kepulauan, Mochtar Sangaji, S.IP mewakili Walikota Tidore, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan, Drs. H. Asrul Sani Soleiman,  perwakilan dari kabupaten/kota lain di Maluku Utara, Pemerhati Pariwisata Nasional, Akademisi dari Maluku Utara, Institut Pertanian Bogor, Perhimpunan Hotel dan Restoran Seluruh Indonesia, Masyarakat Pariwisata Indonesia, Himpunan Pramuwisata Indonesia dan Indonesian National Air Carrier Association (INACA) atau Asosiasi Penerbangan Indonesia. (end)

">

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *